| Selasa, 15 Februari 2005 | SEMARANG |
Dingin, Pelaku Tapa NyerahMRANGGEN - Dua hari melakoni tapa pendhem ternyata dirasa cukup berat bagi Suparno (73), warga Desa Tamansari, Kecamatan Mranggen, Demak. Akibatnya, bapak empat anak ini yang sebelumnya ngotot akan bertapa selama 40 hari, gagal menjalaninya. ''Kula mboten kiat adheme, anyes sanget, la pripun awak kula nggreges keranten toyanipun katah,'' ujarnya sembari menyatakan akan memberi penjelasan seadanya kepada siapa pun yang mempertanyakan kegagalannya bertapa. Ketika bertapa, lanjutnya, dia mendapat beberapa cobaan seperti ditemui sejumlah makhluk halus, juga beberapa hewan tanah seperti rayap dan cacing yang masuk ke dalam kain yang dipakainya. Baginya, menghadapi hal itu bukan persoalan berat sehingga tidak dianggap sebagai rintangan. Namun ketika menyadari lubang kubur yang ditempati untuk bertapa digenangi air, perasaannya mulai tidak tenang. Terlebih tubuhnya mulai terasa kedinginan dan menggigil. Sebenarnya, dia merasa bimbang ketika harus mengambil keputusan membatalkan tapa pendhem. Kebimbangan itu berakhir dengan keputusan menyudahi aksi yang menggegerkan warga Tamansari tersebut. Salah seorang anak Suparno, Mas'ad (49), menuturkan ikhwal kegagalan tapa pendhem yang dilakoni bapaknya. Menurut keterangan dia, pembatalan itu terjadi ketika dia mendengar bapaknya mengatakan, ''Wis, aku rak kuwat. Awaku nggreges, atis benget.'' Mendengar permintaan itu, dia bersama adiknya, Khambali, merasa lega. Dengan bantuan tetangganya, mereka pun membongkar lubang tempat tapa pendhem. Dalam waktu lima menit, lubang dapat dibongkar. Dengan bergegas, dia turun ke lubang itu dan membatu ayahnya ke luar. Sanak saudaranya yang ikut menyaksikan itu langsung memeluk Suparno dan memandikan dengan air hangat. Mas'ad merasa lega dengan keputusan bapaknya tersebut. ''Kami justru senang bapak merampungkan lelakon ini. Kami takut ada apa-apa karena umurnya juga sudah tua.'' Namun, H Chaeron, menantu Suparno justru mengaku mantap bila tapa pendhem dapat dirampungkan. Namun, ada perasaan waswas kalau kesehatan fisik mertuanya tiba-tiba menurun hingga berakibat fatal. ''Saya khawatir kalau kondisinya memburuk, apa tidak berakibat hukum bagi orang yang ikut membantu pelaksanaan tapa?'' tanyanya. (H1-91j) |