| Selasa, 15 Februari 2005 | SEMARANG |
Media Pembelajaran Geografi Minim
SEMARANG - Pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) untuk mata pelajaran Geografi di sekolah kadang terkendala dengan kekurangan media pembelajaran. Mayoritas sekolah di Jateng cuma memiliki media pembelajaran yang minimal, yakni atlas, globe, dan peta administrasi. Padahal, tuntutan penguasaan kompetensi siswa dalam KBK Geografi akan sulit tercapai jika cuma difasilitasi dengan media sesederhana itu. Demikian disampaikan Ketua Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unnes Drs Sunarto MPd di sela-sela Semiloka ''KBK, Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Life Skill'' di kampus Sekaran Gunungpati, Senin (14/2). Pelatihan itu dimaksudkan untuk memberikan bekal kepada para dosen dan mahasiswa yang akan mengikuti Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) terkait dengan KBK, pembelajaran kontekstual, dan wawasan tentang life skill pada disiplin ilmu geografi. Menurut keterangan dia, kendala itu terjadi karena fasilitas yang diberikan pemerintah terkait dengan media pembelajaran Geografi juga amat minim. Pemerintah lebih memprioritaskan pengembangan laboratorium untuk pelajaran eksakta, sedangkan untuk pengembangan pelajaran yang berjenis ilmu sosial masih kurang. ''Geografi itu kan ibaratnya berpijak di dua tempat, satu kaki pada IPA (Ilmu Pengetahuan Alam-Red) dan kaki lainnya IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial-Red). Akibatnya, saat ada drop-dropan sarana laboratorium kerapkali disamakan dengan pelajaran IPS yang fasilitasnya tidak terlalu banyak,'' papar dia. Pembelajaran Geografi sesuai dengan Kurikulum 2004, tandas Sunarto, akan berjalan sempurna jika setiap sekolah memiliki sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai. Penguasaan kompetensi dasar Geografi, antara lain memerlukan dukungan fasilitas berupa pantograf (alat untuk memperbesar atau memperkecil gambar peta), foto udara, citra satelit, peta rupa bumi, hingga sampel batuan. Pelatihan Simultan Di luar fasilitas itu, Sunarto menilai, kemampuan guru-guru Geografi perlu lebih ditingkatkan. Para guru perlu memperoleh pelatihan secara simultan untuk meningkatkan kompetensinya. Sebab, guru merupakan SDM yang berada di garda depan untuk penguasaan kompetensi siswa. Dia mencontohkan, para guru di sekolah perlu memperoleh sosialiasi yang intensif terkait dengan KBK dan berbagai metode dan strategi untuk pembelajarannya. Pasalnya, sampai saat ini masih banyak guru Geografi yang belum menguasai betul konsep KBK Geografi, pembuatan silabus, dan rencana pembelajarannya. Di samping itu, mereka juga perlu dilatih untuk bisa menguasai media pembelajaran, semacam interpretasi foto udara, citra satelit, dan peta rupa bumi. ''Bisa dibayangkan, bila pembelajaran geografi disampaikan para guru yang melihat bentuk peta rupa bumi saja belum pernah.'' (amp-64j) |