logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Februari 2005 SEMARANG
Line

Menebar Kebajikan dengan Air Kendi

SEORANG tukang becak yang sedang melintas di Jl Puspanjolo Timur Semarang, Senin (14/2) siang, tiba-tiba berhenti. Dia memarkirkan kendaraan roda tiganya itu ke sisi barat jalan. Dihampirinya dua kendi yang diletakkan pada tatakan bertuliskan "Air Matang". Tanpa perlu sungkan dan permisi, dia menenggak air dari salah satu kendi. "Glek, glek, glek, ah, segar nian."

Rasa dahaga yang menderanya, hilang seketika. Usai itu, ia kembali mengayuh becaknya menuju ke arah utara. Tak beberapa lama, sejumlah anak sekolah berseragam putih merah giliran menghampiri kendi-kendi tersebut. Mereka yang haus, segera berebutan meminum isinya.

Ya, kendi-kendi di tempat itu selalu menjadi ampiran, orang-orang yang kehausan di jalan. Mereka boleh minum sepuasnya, tanpa perlu mengeluarkan uang. Cuma air putih, memang; tapi tetap banyak yang menggemarinya.

Lantas, siapa sih orang berhati mulia, yang dengan sukarela menyediakan kendi-kendi itu? Dialah Soeparman (72), warga Jl Puspanjolo Selatan RT 3 RW 6 Nomor 304, Kelurahan Bojongsalaman, Semarang Barat. Setiap hari, lelaki yang punya usaha bengkel las itu mengisi air putih matang ke dalamnya. Tak ada pamrih apa pun, selain sekadar ingin membantu orang lain.

Soeparman menyediakan kendi-kendi itu sejak 14 tahun lalu; diawali sebuah peristiwa. Suatu hari, saat sedang menimba air dari sumur yang terdapat di halaman depan rumahnya, dia dihampiri seorang perempuan bersama dua anaknya yang masih balita. Kepadanya, perempuan beraut lelah itu meminta air. Dengan tangan terbuka, Soeparman menyilakan mereka mengambil air dari sumur sepuas-puasnya.

Namun alangkah terkejutnya Soeparman, saat melihat ibu dan kedua anaknya itu menggunakan air sumur untuk minum.

"Astaga, mereka langsung ngokop saja dari timba. Melihat itu, saya langsung cegah mereka. Saya ajak masuk ke dalam rumah, lalu saya sediakan minuman sekaligus makan siang. Ternyata mereka kehausan," tuturnya mengisahkan.

Peristiwa itu segera menyadarkan Soeparman, betapa sebenarnya banyak orang yang membutuhkan air untuk sekadar menghilangkan dahaga di jalanan. Sejak itulah, dia menyediakan dua kendi berisi air putih matang di depan rumah, sekaligus bengkel lasnya. Beberapa bulan kemudian, perempuan yang ternyata berasal dari Gunungpati itu kembali datang ke rumahnya. Dia datang membawa sayur-mayur hasil kebunnya sebagai ungkapan rasa terima kasih.

Setiap hari air, isi dua buah kendi bercat putih itu selalu habis diminum orang-orang yang membutuhkan. Mereka adalah para tukang becak, anak-anak sekolah, orang-orang yang kebetulan lewat, atau anak-anak kampung seusai main bola di lapangan bantaran Kaligarang, tak jauh dari tempat itu.

"Apa yang saya lakukan, idhep-idhep nulungi orang. Sebagai orang kecil, cuma itu yang bisa saya lakukan. Saya percaya, kalau kita berbuat baik, orang juga akan berbuat baik kepada kita," ujar Soeparman lirih.

Sepintas, apa yang dilakukan suami Titi Sudarti tersebut amat bersahaja; namun di tengah zaman yang semuanya dihitung berdasarkan untung rugi ini, tindakan itu menjadi terasa langka.(Rukardi-64a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA