| Selasa, 15 Februari 2005 | INTERNASIONAL |
Palestina dan Israel Songsong Era BaruJERUSALEM - Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan, Palestina dan Israel sedang menyongsong ''era baru'' setelah lebih dari empat tahun lamanya terperosok dalam kubangan kekerasan. Dalam wawancara dengan harian New York Times terbitan Senin kemarin, Abbas mengatakan, Perdana Menteri Israel Ariel Sharon juga sependapat dengannya meski dengan menggunakan ''bahasa yang berbeda'' soal era baru perdamaian. Kedua negara itu mencapai kesepakatan gencatan senjata hasil pertemuan tingkat tinggi 8 Februari. Abbas menyambut baik rencana Sharon yang hendak memindahkan seluruh 21 pemukim Yahudi di Jalur Gaza dan empat dari 120 pemukim di Tepi Barat pada musim panas ini. Menurutnya, pemindahan tersebut menandakan awal baik menuju perdamaian. "Sharon sudah menjadi mitra," kata Abbas. Ketika ditanyakan soal bentrok senjata yang dimulai pada 2000 setelah perundingan damai goyah, Abbas mengatakan, ''Kami tidak dapat mengatakan hal itu sebagai kesalahan. Namun, setiap peperangan akan tetap berakhir.'' Redakan Situasi Abbas mengatakan, Hamas dan kelompok Jihad Islam berkomitmen untuk meredakan situasi. ''Saya yakin kami akan memulai era baru.'' Kedua faksi militan itu sama-sama berkeinginan meraih kekuasan pada pemilu legislatif Juli mendatang. ''Jika mereka menang, maka itu sudah menjadi hak mereka,'' kata dia. ''Hamas dan Jihad sedang berjuang menuju pemilu. Apa artinya itu? Artinya, pada saatnya nanti mereka akan berubah menjadi partai-partai politik,'' kata Abbas. Pemimpin Palestina itu menolak opsi damai melalui deklarasi negara merdeka sebelum penyelesaian final. Dia mengatakan, Sharon sudah berbicara tentang negara Palestina merdeka pada KTT itu. ''Mereka tidak akan menjadi penjajah lagi,'' kata dia. ''Mengenai hal-hal itu, Sharon bersikap positif. Persoalannya, kami ingin melihat pelaksanaanya di lapangan,'' kata Abbas. Kabinet Israel Minggu lalu setuju membebaskan 500 tahanan Palestina. Mereka akan dibebaskan Rabu besok. Sebanyak 400 tahanan lainnya juga sedang menunggu untuk dibebaskan. ''Masalah tahanan adalah prioritas kami,'' kata dia. Israel menahan sekitar 8.000 warga Palestina. Negara Yahudi itu tetap menolak membebaskan tahanan yang terbukti melakukan serangan mematikan terhadap warga Israel. Sementara Abbas berbicara soal perdamaian, insiden kekerasan masih terjadi. Tentara Israel menembak mati seorang Palestina yang hendak menikam seorang prajurit di kota Hebron, Tepi Barat. Insiden itu terjadi di dekat Makam Suci Hebron. ''Dia berusaha menikam seorang prajurit dan tentara menembaknya sebagai upaya penyelematan diri,'' kata dia. Menurut laporan, si Palestina itu tidak membawa identitas apa pun dan belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas orang itu. Di sebelah selatan Jalur Gaza, militan Palestina menembaki sebuah pos tentara dengan mortir. Namun, tidak ada yang cedera dalam insiden itu. Kelompok-kelompok militan sudah mengatakan tidak akan mempedulikan de facto gencatan senjata itu. Meski demikian, mereka masih menimbang-nimbang untuk menerima gencatan senjata secara resmi. Meski terjadi kerusuhan kemarin, Israel menepati janjinya untuk menyerahkan mayat 15 militan yang tewas dalam pertempuran. Hal itu tampaknya untuk mendukung sikap Abbas terhadap kelompok militan. Ratusan orang termasuk sanak keluarga korban dan aktivis militan mengerumuni 15 ambulans yang membawa mayat-mayat itu ke pemakaman umum di Kota Gaza. Banyak dari mereka berteriak ''Allahu Akbar'' dan ''kami menyerahkan darah dan jiwa kami kepada para syuhada''. Mobil-mobil membunyikan klakson untuk merayakannya. (rtr-ant-52) |