| Selasa, 15 Februari 2005 | INTERNASIONAL |
Syiah Irak Perlu Rangkul Kubu LainBAGDAD - Kubu Syiah Irak merayakan kemenangannya dan berjanji akan merangkul kubu Suni. Isolasi politik terhadap kubu Suni yang kalah dalam pemilu dapat menjadi ancaman serius bagi stabilitas negara itu. Partai Kurdi juga merayakan keberhasilan mereka meraih peringkat kedua dalam pemilu Irak. Kurdi langsung mendesak untuk mendapat jatah satu dari jabatan tinggi di negara itu dan mengklaim Kirkuk, daerah kaya minyak. Kubu Syiah meraih 8,5 juta suara dan diperkirakan memperoleh lebih dari separo kursi di Dewan Nasional (parlemen Irak). Inilah pertama kalinya Syiah berkuasa di negeri itu dalam kurun waktu 1.000 tahun. ''Inilah pilihan rakyat,'' kata seorang pendukung Ahmed Shebab Mahmud. Namun, muncul pula kekhawatiran kalau-kalau marjinalisasi kubu Suni dapat memicu kekerasan lebih lanjut. Kekerasan sektarian di Irak telah menelan korban ribuan tewas dan menggoyahkan sendi-sendi perekonomian negara itu sejak invasi AS Maret 2003. Presiden AS George W Bush memuji warga Irak yang ''mengalahkan teroris dan memberikan suaranya dalam pemilu.'' Terpecah-belah Kemenangan kubu Syiah dalam pemilu belum berarti banyak. Sebab, Syiah masih harus merangkul kubu-kubu lain untuk dapat menjadi mayoritas di parlemen jika mereka ingin dapat meluluskan konstitusi baru. Sedangkan, kubu Suni yang gagal meraih suara terbanyak bakal termarjinalisasi dalam Dewan Nasional. Meski demikian, posisi Suni di parlemen masih tetap harus diperhitungkan untuk dapat menggolkan konstitusi baru. ''Hasil pemilu kali ini mencerminkan situasi terpecah-belah di Irak,'' kata Rosemary Hollis, ketua program Timur Tengah pada Royal Institute of International Affairs. ''Karena tidak ada mayoritas, kubu Syiah tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus membentuk aliansi dengan kubu-kubu lain. Pilihan sekutu utama mereka adalah kelompok Kurdi,'' kata dia. Dengan restu dari ulama tinggi Syiah Ayatollah Ali al-Sistani, kubu Syiah meraih 48 persen suara, sedangkan Kurdi pada peringkat kedua dengan 25 persen suara. Penasihat keamanan Irak Mowaffaq al-Rubaie, mantan pengasingan Syiah, menyebut hasil pemilu ini sebagai pergeseran paradigma bagi Syiah. Namun, hasil pemilu itu bukan hanya perubahan besar bagi Syiah. Hasil pemilu Irak juga mencerminkan perubahan drastis lanskap politik bagi Suni Arab. Kubu Suni kini hanya menjadi minoritas 20 persen setelah berpuluh tahun lamanya mendukung kekuasaan Saddam Hussein. Meski Suni tidak cukup terwakili dalam dewan beranggotakan 275 orang, kubu itu masih dapat memainkan peran penting bagi masa depan Irak. ''Persoalannya, para kader yang termasuk dalam daftar Sistani ternyata tidak meraih suara meyakinkan sebagaimana diperkirakan,'' kata Charles Tripp, pakar Irak pada School of African and Oriental Studies (SOAS) di London. ''Isu utama sekarang ini adalah koalisi mana saja yang dapat bergabung. Memang ada segi positif dengan tidak adanya kubu mayoritas, namun dampak negatifnya adalah bahwa pengambilan keputusan penting dapat tertunda-tunda, seperti misalnya isu federalisme, hukum Islam dan penarikan tentara AS,'' paparnya. Perlunak Sikap Kegagalan Syiah meraih mayoritas bukan hanya berhenti pada soal pembentukan koalisi. Hal itu juga berarti bahwa Syiah perlu memperlunak sikapnya atas beberapa prinsip syariat Islam jika ingin menjalin konsesus dengan partai-partai sekuler. ''Irak sedang terluka dan setiap warganya perlu bekerja keras membangun solidaritas dan persatuan,'' kata Menteri Keuangan Adel Abdel Mahdi, salah seorang kader dari kubu Syiah. Mahadi disebut-sebut sebagai bakal perdana menteri. ''Seperti kami tegaskan sebelumnya, kami akan menjunjung prinsiop dialog dan akan bekerja sama dengan semua pihak, baik yang tersingkir maupun yang undur diri dari pemilu,'' kata dia. Hingga kemarin belum ada pengumuman resmi soal pembagian kursi di parlemen. Namun, berdasarkan mekanisme perhitungan, Aliansi Syiah harus memperoleh 140 kursi untuk dapat menjadi mayoritas. Diperlukan mayoritas dua pertiga di Dewan Nasional apabila satu kubu ingin menggolkan calonnya sebagai presiden dan meluluskan UU baru. Beberapa kalangan memperingatkan, kubu aliansi Syiah dengan mayoritas mutlak dapat mengesahkan konstitusi berdasarkan hukum Islam yang ketat. Menurut anggota komisi pemilu Farid Ayar, hasil pemilu baru definitif Rabu besok.(rtr-gn-52) |