| Selasa, 15 Februari 2005 | EKONOMI |
Harga Gula Mendekati Rp 6.000/KgSEMARANG-Kenaikan harga gula disejumlah kota di Jateng mendekati Rp 6.000/kg. Ini dipengaruhi oleh kenaikan harga gula dunia yang saat ini mencapai 304 dolar AS/metrik ton. Selain itu, harga gula impor yang tinggi dipengaruhi oleh bea masuk yang sekarang mencapai Rp 790/kg. ''Harga gula dunia sekarang tertinggi. Jadi harga gula di Jateng terpengaruh mengingat sekarang yang banyak dipasarkan adalah gula impor,'' ujar P Edison Ambarura, Kepala Sub Dinas Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng, kemarin. Ia menyebutkan sejak pekan lalu 3.750 gula impor milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI Surabaya telah dipasarkan oleh 34 distributor yang telah ditunjuk dengan harga tebus Rp 4.700/kg. ''Meski sudah dipasarkan, tidak langsung berpengaruh terhadap penurunan harga gula. Butuh waktu beberapa minggu,'' ujarnya. Secara keseluruhan, lanjut dia, di Jateng diperkirakan masuk 56.250 ton gula impor dan 12.700 ton, di antaranya dikirim ke Yogyakarta. Gula tersebut dari PTPN IX sebanyak 34.800 ton, PTPN XI 3.750 ton, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) 17.700 ton. Sementara itu di tingkat pengecer beberapa pasar di Semarang, harga gula naik cukup signifikan. Di Pasar Johar Rp 5.750/kg dan Pasar Karangayu Rp 5.500-Rp 5.750/kg, sedangkan di toko-toko rata-rata dijual seharga Rp 6 .000/kg. Seorang penjual bahan pokok di ruko Tlogosari mengatakan seminggu terakhir harga gula memang melambung tinggi. Dua hari lalu dia mengaku membeli gula dari distributor Rp 5.750/kg, kemudian menjual seharga Rp 6.000/kg. "Lebaran lalu kenaikannya tidak sebesar sekarang," tutur Suranto, pemilik toko lainnya di kompleks ruko tersebut. Kenaikan harga gula itu berdampak buruk terhadap industri rumahan, khususnya yang memproduksi kue dan roti. Salah satu bahan bakunya adalah gula sebagai pemanis. Ny Warni, pemilik industri rumahan kue dan roti di Jatingaleh mengatakan sekarang membeli gula Rp 6.000/kg. Setiap hari butuh 10 kg gula untuk memproduksi sekitar 25 kg kue kering dan roti kukus. Sebelum harga gula mencapai Rp 6.000/kg dia bisa menjual roti kukus Rp 350/biji kepada para pelanggannya. Namun setelah harga gula naik mau tak mau ia menaikkan harga hasil produksinya dari rata-rata Rp 300 menjadi Rp 400/biji. Dia memprediksi semua pemilik usaha pembuatan roti baik kecil, menengah, maupun besar akan mengurangi produksinya akibat kenaikan harga gula. ''Untuk sementara saya membuat kue sesuai pesanan. Itu untuk mengurangi berbagai kerugian,'' ujarnya.(G2-53) |