logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Februari 2005 EKONOMI
Line

Menangkap Peluang Bisnis Outsourcing IT

PERKEMBANGAN information technology (IT) atau teknologi informasi dunia begitu pesat, baik yang menyangkut hardware (perangkat keras) maupun software (perangkat lunak).

Fenomena utama yang menarik adalah terjadi outsourcing dalam bisnis software development dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang.

Selama ini yang berhasil menangkap peluang bisnis itu adalah India, China, Filipina dan Vietnam. Indonesia tertinggal dalam memanfaatkan momentum emas tersebut.

Outsourcing adalah mengalihkan tugas atau pekerjaan dari produksi internal kepada entitas eksternal.

Konsep outsourcing menjadi begitu populer setelah dikibarkan oleh Ross Perot (1962), multimiliarder yang pernah mengajukan diri sebagai kandidat independen presiden AS.

Asumsinya sederhana. Jika Anda ahli di bidang bisnis furniture atau mebel sejak proses rancangan, produksi, hingga penjualan, maka pakar di bidang IT yang bisa memberikan jasa yang Anda butuhkan untuk mendukung sukses bisnis.

Begitu besar nilai transaksi outsourcing dalam bisnis software development dengan arah kecenderungan sangat fantastis.

Sebagai ilustrasi pada tahun 2002 total transaksi mencapai 84,2 miliar dolar AS atau setara Rp 757,8 triliun. Tahun 2003 total nilai transaksi melonjak sekitar 44% menjadi 118,9 miliar dolar AS atau kurang lebih Rp 1.165,22 triliun.

Pada tahun 2004 membengkak sebesar 37%, yakni menjadi 163 miliar dolar AS atau setara Rp 1.597,4 triliun (http//management.silicon.com/itdirector/0,39024673,39127146,00,htm).

Ada beberapa faktor rasional yang mendasari terjadi outsourcing IT. Pertama, industri dan bisnis IT merupakan medan kompetisi yang sangat ketat.

Dari waktu ke waktu selalu muncul pemain dan investor baru yang menjadikan pasar makin mendidih. Pasar akhirnya memaksa perusahaan-perusahaan IT bukan hanya mengembangkan produk inovatif, melainkan juga murah dan makin murah.

Kedua, perusahaan IT melihat peluang biaya merancang dan memproduksi bisa ditekan dengan cara mempekerjakan para pakar IT di lokasi perusahaan, atau bahkan mengalihkan sebagian atau seluruh pekerjaan ke negara asal pakar IT.

India, misalnya, bagai mendapat durian runtuh outsourcing IT itu. Sebagai contoh perusahaan IT bisa mempekerjakan seorang pakar IT India dengan gaji 10.000 dolar AS/tahun.

Sementara itu arsitek IT dengan kualifikasi yang sama di AS harus dibayar 60.000-90.000 dolar AS. Suatu efisiensi yang sangat signifikan untuk tetap survive di tengah persaingan bisnis IT dunia.

Betapa menggiurkan peluang bisnis outsourcing IT yang merebak menyusul kebangkrutan perusahaan-perusahaan dotcom awal abad 21.

Banyak kendala

Masalahnya, justru dalam praktek banyak kendala yang mengadang jika kita ingin mengambil peluang tersebut.

Pertama, kendala komunikasi karena penggunaan bahasa. Keberuntungan India di luar kesiapan lembaga-lembaga dan sistem pendidikan serta fasilitasi pemerintah adalah karena telah menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional kedua.

Kedua, angka pergantian (turn over) personel atau tenaga kerja asing yang tinggi di perusahaan-perusahaan IT negara-negara berkembang.

Ketiga, klien kesulitan menemukan para arsitek IT yang kualified dengan sertifikasi internasional dan mau dibayar murah. Sebaliknya, beberapa perusahaan mengeluhkan hasil pekerjaan para pakar IT yang mereka gaji tidak memenuhi kualitas yang diinginkan.

Keempat, sistem hukum dan regulasi negara asal para arsitek IT yang dipekerjakan begitu rumit dan sangat menyulitkan klien jika terjadi sengketa atau pelanggaran kontrak kerja yang disebabkan oleh kontrak antarnegara.

Persoalan kelima adalah kultur atau budaya yang berbeda antara negara klien dan para pakar IT di negara berkembang.

Menyadari ada kendala dan masalah di atas, penulis tergerak melakukan upaya-upaya realistis yang memungkinkan kita bisa memanfaatkan peluang outsourcing IT dengan baik.

Pertama, semua interaksi dengan klien akan ditangani oleh ahli yang bersertifikat internasional atau yang memiliki pengalaman kerja selama 10 tahun atau lebih di bidangnya.

Kedua, semua kontrak kerja akan dilakukan dalam bentuk perjanjian kerja asli dan sah sesuai dengan sistem hukum yang berlaku di negara asal klien.

Ketiga, perjanjian kerja diketahui dan atau dijamin oleh konsultan yang kualifikasinya diakui oleh negara klien.

Keempat, untuk menekan dan mengefisienkan biaya para arsitek IT bisa melakukan pekerjaan mereka di smart village outsourcing model (harmony based partnership).

Berdasarkan pengamatan penulis alangkah besar potensi generasi muda Indonesia yang saat ini menekuni pendidikan di berbagai perguruan tinggi.

Mereka itulah yang perlu kita dorong untuk merebut peluang kerja outsourcing dalam bisnis software development.

Momentum emas outsourcing IT kini terbuka lebar. Kita bebas memilih: cukup menjadi penonton atau justru secara serius bahu -membahu mempersiapkan anak-anak kita menjadi pakar IT kelas dunia.(Rudolf Wirawan MSc MACS, principal consultant WiraSoft Consulting Sydney, Australia-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA