logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Februari 2005 EKONOMI
Line

Kredit Macet BPR di Atas 30 Persen

AMBARAWA- Bank Indonesia (BI) meminta puluhan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jateng segera menambah modal karena kredit macetnya sudah di atas 30%.

Kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) net BPR di Jateng sudah mencapai 10,6%, berarti melampaui ambang batas maksimal 5%.

Khairil Anwar, Koordinator Bidang BI Semarang mengungkapkan di dua daerah, yaitu Kabupaten Blora dan Kota Solo, NPL BPR-nya melampaui 20%.

Sehubungan dengan itu, lanjut dia, Pemimpin BI Semarang Amril Arief pekan lalu memanggil sepuluh lebih pengelola BPR karena NPL-nya di atas 30%.

''Pengelola BPR tersebut selain diingatkan soal NPL-nya yang sudah lampu merah, dimintai komitmennya agar segera menambah modal,'' ujar Khairil di sela-sela pelatihan sertifikasi direksi BPR se-Jateng angkatan II di Bandungan, Ambarawa, kemarin.

Menurut dia, penyebab angka kredit tidak tertagih BPR Jateng tinggi bervariasi.

Di wilayah pantai nasabah yang sebagian besar nelayan tengah mengalami musim paceklik akibat badai sehingga pembayarannya seret, sedangkan di daerah pertanian karena musim tanam mundur.

BI, tutur dia, juga meminta agar BPR-BPR di Jateng tahun ini menurunkan angka loan to deposit ratio (LDR) atau rasio pinjaman dan simpanannya dengan cara memperlambat pengucuran kredit.

''Kami mengimbau para pengelola BPR di Jateng agar jangan hanya mengejar target penyaluran kredit, tetapi lihat tren peningkatan kredit macet yang berpotensi menimbulkan masalah terhadap kesehatan BPR-nya,'' tandasnya.

LDR di Atas 100%

Dia menyebutkan saat ini LDR BPR di Jateng mencapai 109%. Bahkan di Semarang 124,8% dan Pekalongan 221%.

Padahal idealnya hanya 80% agar memiliki pencadangan modal yang cukup untuk mem-back up kredit macet.

Data BI Semarang menunjukkan selama 2004 kemampuan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) BPR-BPR di wilayah kerjanya turun, sedangkan penyaluran kreditnya cukup tinggi.

DPK Rp 1,85 triliun atau hanya naik 23% dari 2003 senilai Rp1,5 triliun. Tetapi pada periode yang sama pertumbuhan kredit naik 35% dari Rp 1,45 triliun menjadi Rp 1,96 triliun.

Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Jateng Said Hartono beberapa waktu lalu sudah meminta anggotanya agar tidak terlalu ekspansif menyalurkan kredit untuk menekan risiko, karena pada akhir 2004 LDR BPR di Jateng sudah melampaui 100%.

''Idealnya, LDR rata-rata maksimal 94%. Kami mengimbau manajemen BPR yang LDR-nya masih di atas 100% agar menurunkan ke posisi ideal,'' jelasnya.

Meski demikian, menurut dia, anggota Perbarindo Jateng yang jumlahnya 592 unit baik BPR umum maupun BPR-Badan Kredit Kecamatan (BKK) selama 2004 menunjukkan kinerja positif, terutama peningkatan aset sebesar 25%. (G2-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA