BAGIAN KETIGA

27

HARI ini tak ada kerja bakti bagi Soepangat dan Chambali. Mereka hanya wajib datang ke sebuah sudut bangunan, untuk merapikan rambut, dekat pohon rambutan. Mereka mendapat giliran kedua, setelah pasangan Miad dan Rustamadji. Karenanya mereka tak harus tergesa meninggalkan selnya. Masih ada sejenak waktu. Hanya sejenak, tapi itulah kali pertama mereka merasa punya sedikit kebebasan, semenjak para tentara yang tak ubahnya para pemburu menangkapi mereka seperti menangkapi kambing liar dan memasukkan mereka ke dalam kandang-kandang yang sumpek dan apek.

"Pak, saya bangga tinggal satu sel bersama Bapak," kata Chambali sambil meraba-raba rambutnya.

Mendadak pagi terasa ajaib bagi Soepangat. Bukan lantaran ia heran bahwa di tempat yang tak layak dihuni manusia itu masih ada yang bisa bangga, melainkan karena ia tersadar bahwa dirinya adalah seorang bapak yang kini menemukan kembali kepolosan seorang anak.

"Aku pun senang bisa mengenalmu. Kamu mengingatkan aku pada anak-anakku. Tapi, mengapa kamu bangga?"

"Karena... kata bapak saya, Pak Pangat adalah pemimpin yang hebat. Saya bisa belajar banyak dari bapak."

Soepangat tertawa kecil. Dalam hati ia menyadari betapa dirinya bukan siapa-siapa tanpa dukungan para pemberani seperti Kutil. Dirinya menjadi Bupati Pemalang semata-mata karena didaulat rakyat, dipercaya untuk menyembuhkan borok yang sudah membarah akibat tikaman kaum penjajah dan antek-anteknya, para pangreh praja.

"Bapak kamu juga pemimpin yang hebat."

"Tapi, bapak saya bukan penguasa."

"Bukan pejabat, ya. Tapi, ingat, bapakmu pernah menjabat kepala polisi lo. Kalaupun tidak, dalam bentuk lain bapakmu juga penguasa."

Chambali terdiam. Baginya tidak mudah memahami penjelasan Soepangat. Ia tak mengerti, mengapa kalau bapaknya tidak pernah menjadi kepala polisi pun masih bisa dibilang penguasa. Ia hanya tahu bapaknya tak lebih dari seorang barbir, seorang guru ngaji, dan kemudian orang juga menyebutnya seorang lenggaong. Tapi, lebih dari semua itu, ia tahu bahwa bapaknya adalah seorang suami dan orang tua yang baik.

"Mengapa di dunia ini ada penguasa, Pak?"

Soepangat menatap Chambali. Tak mudah baginya menjawab pertanyaan itu. Tapi lebih tak mungkin lagi untuk tidak menjawabnya. Sebagai mantan bupati, pertanyaan Chambali terdengar bagai tuntutan untuk menjelaskan apa perlunya sistem pemerintahan. Anak itu sudah mempercayainya sebagai pemimpin yang hebat. Ia tak ingin membuatnya kecewa.

"Ya... kalau zaman dulu kala, penguasa itu adalah orang-orang yang mengalahkan orang lain. Siapa yang kalah harus tunduk dan mematuhi kehendak si pemenang. Karena itu si pemenang punya kekuasaan dan bisa berbuat sewenang-wenang terhadap mereka yang ditaklukkan."

"Seperti para penjajah dan pangreh praja itu ya, Pak?"

Soepangat tertawa, "Ya. Mereka memang sewenang-wenang. Sebab itu kita melawan. Kita tidak mau hidup sebagai orang yang selalu ditaklukkan. Agar kita bisa membangun masyarakat yang tertib sesuai kehendak kita sendiri. Dan untuk menciptakan masyarakat yang tertib itu, Nak, kita tidak cukup mengusir panjajah dan mengganti para pangreh praja. Kita masih harus menciptakan tatanan dan aturan bagi kepentingan bersama. Nah, kita memerlukan orang-orang yang bisa membuat, menjaga, dan melaksanakan tatanan dan aturan itu. Orang-orang itulah yang diberi kepercayaan dan kewenangan."

"Mereka itu yang disebut sebagai pemerintah?"

"Ya. Entah siapa yang mula-mula memberikan sebutan yang keliru itu. Harusnya bukan pemerintah, tapi pengelola. Karena namanya pemerintah, kerja mereka ya menjadi tukang perintah."

"Kalau penguasa, Pak?"

"Banyak juga yang menganggap mereka adalah penguasa. Jadi kerjanya, ya, menguasai."

"Pak, dari mana datangnya kekuasaan?"

"Segala sesuatu datang dari Tuhan."

"Tapi bapak saya pernah bilang, kekuasaan datang dari rakyat."

"Ada anggapan, suara rakyat adalah suara Tuhan."

"Jadi kalau penguasa mengkhianati rakyat, berarti mengkhianati Tuhan?"

Soepangat tidak mengiyakan, juga tidak mengatakan tidak. Ia tahu banyak penguasa menahbiskan diri sebagai wakil Tuhan. Karena Tuhan Mahakuasa, dan Tuhan hanya menurunkan kekuasaan kepada mereka, orang-orang yang terpilih menjadi wakil-Nya di dunia. Dan berjuta rakyat, selama berabad-abad, percaya.

Lalu Soepangat ingat sebuah cerita yang pernah ia baca. Cerita yang tempo hari urung dituturkannya kembali kepada Chambali. Saat itu Soepangat hanya mengatakan bahwa cerita itu tentang anak-anak. Ya, ia tidak berdusta. Cerita itu memang tentang seorang anak, tapi bukan anak seperti Chambali. Anak itu adalah seorang raja, seorang anak yang juga penguasa, atau tepatnya: seorang penguasa dengan perilaku seorang anak.

Konon, kekuasaan memang bisa membuat seorang dewasa sekalipun merasa menjadi manusia istimewa, yang harus diperhatikan dan harus dilayani-layaknya seorang bayi. Begitulah sang raja dalam cerita yang pernah ia baca. Bila sedang marah, sang raja menjatuhkan diri dan berguling-guling di lantai, lalu memberakoti permadani. Dan bilamana ia tak lagi marah, setelah lelah, ia akan bersabda, "Aku adalah wakil Tuhan. Aku boleh mengamuk sesukaku. Tuhan juga mengamuk sesuka-Nya bila sedang murka."

"Pak, apakah penguasa yang mengkhianati rakyat berarti mengkhianati Tuhan?"

"Hanya Tuhan yang tahu, Anakku," jawab Soepangat singkat.

Chambali tak bertanya lagi. Mengerti. Ia memandang ke rerumputan di halaman penjara, di mana bebutir embun sudah tak ada.

Soepangat berdiri dan mengelus rambut Chambali, "Mau kamu pangkas model apa, ini?" lalu beranjak pergi. Ia tak mendengar Chambali melucu, Hanya Tuhan yang tahu.


HexWeb XT DEMO from HexMac International