| Selasa, 15 Februari 2005 | BUDAYA |
Tidak Mau Berpuas DiriINANTA Hadipranoto, pelukis kelahiran Semarang 1948, adalah di antara sekian murid berbakat Dullah. Reputasinya melukis gaya Dullah sudah diakui banyak kalangan di dunia seni rupa. Misalnya, yang tertoreh dalam buku tebal tentang rokok kretek karangan Mark Hanusz yang berjudul "The Culture and Heritage of Indonesian Clove". Cover buku yang diterbitkan Equinox Publishing Singapura pada 2000 memampangkan lukisan Inanta yang digarap pada 1989 dan menjadi koleksi salah satu pabrik rokok di Kudus. Dia mengakui, berguru pada pelukis Dullah yang dikenal sebagai maestro naturalis dan pelukis istana pada zaman Presiden Soekarno itu sangat berarti bagi perjalanan kariernya. Dullah telah mengajarkan ilmu melukis yang membuatnya piawai dalam teknik realis maupun kemampuan memilih momen yang tepat serta pencahayaan dramatik dengan kelembutan goresan dan kekuatan artistiknya. Namun, Inanta tidak mau terus-terusan berpuas diri dalam bingkai "naturalisme ala Dullah". Sejak lama dia telah sadar bahwa dirinya harus keluar dari bingkai itu dan menciptakan alternatif naturalis yang lebih menantang. "Keyakinan dan iman saya pada Tuhan memberikan pencerahan kreatif yang mengarah pada tema-tema universal dinamis," ungkap Inanta yang pernikahannya dengan Linda Djojomuljono dikaruniai tiga anak, yakni Ganiswara (22), Sapto Hutomo (19), Ray Faranday (12). Pameran Inanta adalah pelukis bersemangat keras yang ditempa keadaan dirinya. Sejak usia 12 tahun telah mandiri sekolah sambil bekerja di toko cat milik pamannya. Pada 1964, bakat melukisnya berbuntut sang ayah menitipkannya kepada seorang pelukis bernama Cipto Biromo. Sejak itu Inanta serius belajar melukis, termasuk menyerap teknik lukisan di sebuah etalase yang memajang karya pelukis terkenal di masanya. Ketika lukisan-lukisannya laku terjual, ia pun bertekad bisa hidup dari melukis. Kini Inanta telah menjadwal beberapa pameran, di antaranya pertengahan Februari 2005 di July Gallery Jakarta Selatan dan 26 Mei 2005 di Hotel JW Marriott Jakarta dalam rangka Indonesian French Cultural yang diadakan Kamar Dagang Prancis dakan akan diresmikan Duta Besar Prancis. Kemudian kolektor asingnya di Australia dan Amerika tengah merancangkan pameran lukisan-lukisannya tergelar akhir tahun ini di negeri tersebut. (D18-81) |