logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 SALA
Line

Dinas Perhubungan Adakan Ruwatan Masal

DINAS Perhubungan Pariwisata Seni Budaya (DPPSB) Kabupaten Wonogiri akan membuka kemudahan pelayanan untuk ruwat masal bagi masyarakat umum. Acara yang dibakukan dalam agenda wisata budaya bulan Sura ini digelar untuk membantu meringankan warga yang berminat ruwatan.

Berikut wawancara Suara Merdeka dengan Kepala DPPSB Wonogiri Hendro Purbandoro selaku Ketua Panitia Gelar Wisata Budaya Bulan Sura 2005.

Apa yang dimaksud dengan ruwatan massal?

Ruwatan itu sebuah upacara tradisi pembebasan orang-orang yang terkena nasib sial (sukerta). Karena sifatnya massal maka acara ini dapat diikuti oleh peserta dalam jumlah banyak, baik yang berasal dari masyarakat lokal maupun dari luar daerah.

Caranya bagaimana?

Untuk mengikuti acara ini cukup dengan mendaftarkan nama-nama anggota keluarga yang akan diruwat kepada panitia dengan alamat Kantor Sub-Dinas Pariwisata Seni Budaya di Jalan Brigjen Katamso 1 Wonogiri, telepon 0273-321155. Tepatnya di sebelah barat terimnal induk Wonogiri. Biayanya per orang Rp 100.000 dan dan diwajibkan membawa kain mori putih 3,5 meter. Kain itu akan dipakai sendiri dalam acara saat ruwatan.

Ruwatan akan digelar Minggu (20/2) bersamaan dengan jamasan pusaka Mangkunegara di objek wisata Sendang Asri Waduk Gajahmungkur. Peserta yang tak dapat hadir diminta menyerahkan pakaian bekas, potongan rambut, dan potongan kuku yang dikemas dalam mori putih dilengkapi tulisan identitas diri, nama orang tua, tanggal, dan hari serta tanggal kelahiran (weton). Data ini disertakan dalam acara ruwatan.

Apa juga pakai wayangan?

Ya. Ruwatan ini akan digelar dalam pentas wayang kulit dengan lakon Murwakala dengan menampilkan dalang Kandha Buwana, yakni dalang senior yang punya garis tujuh keturunan langsung dari para leluhur yang semuanya menjalani profesi dalang.

Pelaksanaan ruwatan Minggu (20/2), dalangnya Ki Warsino Guna Sukasno dari Baturetno, Wonogiri. Dalang ini mendapat predikat nasional sebagai dalang kethek dari Bung Karno karena dinilai piawai memainkan gerak wayang, terutama tokoh-tokoh kera dalam lakon episode Ramayana. Dia juga mahir dalam membacakan aneka ragam mantra sakti sebagai mantra wajib dalam ruwatan Murwakala. (Bambang Pur-85n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA