logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 SALA
Line

Bolehkah Lakon Baratayuda untuk Bersih Desa?

TELAH menjadi tradisi, sejak bulan Besar atau Dzulhijah dan biasanya berlanjut sampai akhir bulan Sura (Muharam), sebagian masyarakat pedesaan ramai-ramai mengadakan ritual bersih desa. Seperti yang baru saja digelar masyarakat di Kelurahan Wonoboyo, di Lingkungan Kaloran Kidul dan oleh komunitas rakyat di Lingkungan Bahuresan, Kelurahan Giritirto, Kecamatan Kota Wonogiri.

Prinsip bersih desa adalah memanjatkan doa syukur dan permohonan karahayon (keselamatan), sebagai tolak bala agar dijauhkan dari malapetaka dan marabahaya. Di pendapa Kabupaten Wonogiri, ritual bersih kabupaten yang dirangkai ruwatan dengan lakon Murwakala digelar dalam upaya menangkal tsunami dan badai tropis yang diramalkan akan muncul di pantai selatan Jateng. Di sana ditampilkan dalang ruwat Ki Warsino GS.

''Tapi sebenarnya, menurut saya ruwatan dan bersih desa itu dapat digelar kapan pun, tidak terbatas pada bulan Besar dan Sura,'' kata dalang Ki Sutino Hardoko Carito dari Kecamatan Eromoko, Wonogiri.

Sebab menurutnya, yang penting adalah kekhusukan pembacaan mantra sakti dan pemanjatan doa permohonannya. ''Agar doa permohonan itu terkabul, saya biasa menjalani puasa lebih dulu sebelum mendalang ruwatan,'' katanya.

Ki Sutino yang dikenal sebagai dalang sepuh, selain biasa tampil sebagai dalang ruwat lakon Murwakala dia juga sering diminta melakukan ritual mengundang hujan dengan membeber lakon Patih Udan Agung.

Banyak Lakon

Lakon wayang untuk ritual bersih desa dan ruwatan tergolong banyak jenisnya, dan yang lazim adalah lakon Sri Mulih dan Murwakala. Jarang dipentaskan lakon perang Baratayuda (ada 12 lakon) untuk ritual bersih desa atau ruwatan.

Banyak masyarakat yang menganggap wingit lakon Baratayuda karena berdampak menimbulkan musibah kelak kemudian hari setelah pementasan.

Namun dalam buku ensiklopedi Wayang Indonesia yang disusun tim penulis Sena Wangi terbitan PT Sakanindo Printama, Jakarta 1999 yang mengutip buku Het Javaansche Toneel-Wayang Poerwo, karangan budayawan Belanda J Kats disebutkan, sekitar tahun 1880, seorang Indo-Belanda yang menjabat Kepala Stasiun KA di Klaten menyuruh dalang Wididirdja menggelar lakon-lakon Baratayuda, di Lemahireng.

Ternyata, tidak terjadi musibah apa pun. Sejak itu, selama 15 tahun kemudian, setiap bersih desa selalu dilakonkan Baratayuda tanpa ada musibah. Baru kemudian pada tahun 1905/1906, ketika diganti lakon lain, justru datang musibah wabah kolera. Karena itu, untuk tahun selanjutnya, warga menggelar kembali lakon Baratayuda dalam setiap bersih desa. Bahkan kegiatan itu kemudian ditiru pula oleh warga sekitar seperti warga Desa Wedi, Mojayan, Srogo, Ngrundul, dan Jonggrangan.

Dalam pewayangan, perang besar Kurawa melawan Pandawa itu disebut sebagai Baratayuda Jaya Binangun. Menurut kitab Mahabarata, Kurawa yang ditulangpunggungi prajurit Astina memiliki kekuatan 11 aksahini dan Pandawa hanya punya tujuh aksahini.

Aksahini adalah satuan bala tentara atau semacam divisi. Satu aksahini terdiri atas 109.350 orang prajurit pejalan kaki (infantri), 21.870 kereta perang, 21.870 gajah terlatih, dan 65.000 pasukan berkuda. Dengan demikian, perang Baratayuda itu melibatkan tidak kurang dari 4 juta manusia. (Bambang Pur-17n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA