| Sabtu, 12 Februari 2005 | SALA |
Suhadi Mundur dari Pencalonan Bupati lewat PANBOYOLALI- Ketua DPD PAN Kabupaten Boyolali, Thontowi Jauhari mengaku kecewa atas mundurnya Suhadi dan Muhajir dari pencalonan bakal calon bupati dan wakil bupati lewat partainya. Semestinya, pasangan itu tetap bertahan sampai dilaksanakan pemilihan bupati dan wakil di internal partainya. ''Yang kecewa atas mundurnya pasangan itu bukan hanya saya, melainkan juga pemilih. Pasangan itu namanya sudah dikenal dan diperhitungkan oleh bakal calon lainnya. Kenapa harus mundur?'' kata Thontowi, kemarin. Pengunduran diri pasangan tersebut dikemukakan melalui surat tanggal 4 Januari lalu yang ditandatangani bersama. Dalam surat itu tidak dikemukakan secara eksplisit alasan pengunduran diri. Hal itu yang menyebabkan sebagian orang bertanya-tanya kenapa mundur. Berdasarkan catatan Suara Merdeka, dengan pengunduran diri tersebut maka untuk kali kedua Suhadi menyatakan mundur dari pencalonan bakal bupati. Yang pertama saat pemaparan visi dan misi yang diselenggarakan Partai Golkar,13 Desember 2004. Alasan pengunduran diri karena sejak awal sudah menyatakan berpasangan dengan Muhajir. Karena sudah punya komitmen dan berketatapan untuk berpasangan dengan Muhajir, maka lebih baik tidak meneruskan pencalonan melalui Partai Golkar. Juga Mundur Thontowi mengatakan, pemilihan bakal calon bupati dan wakilnya melalui partainya direncanakan 20 Januari lalu di Gedung Sonosudoro. Saat ini sudah ada delapan orang bakal calon bupati yang melamar dan telah mengembalikan formulir. Sebelum dilakukan pemilihan pada 13 Januari, semua bakal calon akan menyampaikan misi dan visi di Gedung Sonosudoro. Suhadi yang dihubungi melalui ponselnya belum banyak memberikan komentar, karena sedang sibuk mengikuti rapat. Sementara itu, Thontowi yang disebut-sebut telah melamar bakal calon bupati melalui partainya itu secara mengejutkan tidak bersedia dicalonkan. ''Ini bukan mundur, melainkan tidak bersedia. Mundur itu kalau sudah mencalonkan atau mengembalikan formulir. Saya belum pernah melamar, sehingga tidak bisa dikatakan mengundurkan diri,'' katanya. Menurutnya, pengelolaan pemerintahan sebagaimana yang menjadi harapannya ternyata belum banyak diterima oleh masyarakat. Karena itu seandainya dia nekat mencalonkan diri, hanya akan menjadi kontraproduktif dan menjebakkan diri dalam oportunisme dan pragmatisme politik. ''Padahal selama ini saya sering mengkritik dua penyakit politik yang berbahaya itu,'' ujarnya. Dia berjanji akan memberikan dukungan dan dorongan kepada calon yang visinya dekat dengan dirinya. Yang lebih penting lagi, dirinya mengaku properubahan, prorakyat, dan antistatus quo.(shj-92s) |