| Sabtu, 12 Februari 2005 | SALA |
Labuhan Keraton Surakarta Akan Dikemas Jadi Event WisataBOYOLALI- Ritual labuhan yang digelar Keraton Surakarta pada Selasa (8/2) di Plawangan, Kecamatan Selo, Boyolali, diharapkan menjadi event wisata. Namun, untuk dikemas sebagai obyek wisata, terlebih dahulu harus memberitahu Keraton Surakarta. ''Sampai sekarang saya belum tahu, apakah labuhan itu akan digelar rutin satu tahun sekali. Karena itu, saya perlu meminta penjelasan pihak keraton,'' kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sri Ardiningsih, kemarin. Prosesi ritual yang sudah dikemas menjadi event wisata, lanjutnya, sedekah Gunung Merapi yang berlangsung menjelang bulan Sura. Kegiatan tersebut rutin diselenggarakan setahun sekali, dan sudah berjalan puluhan tahun. Setelah dikemas, ternyata cukup menjadi daya tarik bagi wisatawan. Bahkan tidak sedikit wisatawan asing yang secara langsung menyaksikan kegiatan tersebut. Karena itu, pihaknya mempunyai gagasan untuk mengemas labuhan yang kali pertama digelar Keraton Surakarta di Plawangan. ''Kami berharap acara tersebut bisa dikemas seperti halnya sedekah gunung. Namun sebelumnya, kami akan menemui GRAy Koes Moertiyah,'' jelasnya. Sambutan Meriah Labuhan yang berlangsung di kawasan Gunung Merapi mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat. Baru kali ini masyarakat sekitar antusias menyaksikan kegiatan ritual. ''Sayang kalau kegiatan ini tidak mengundang wisatawan asing. Karena itu, untuk tahun mendatang, acara lebih baik dikemas sedemikian rupa sehingga menarik wisatawan,'' kata Suranto, warga Selo. Labuhan yang juga diartikan dengan membuang sial itu, ditandai dengan membuang ageman keraton di kawah Gunung Merapi. Sebelumnya, para kerabat keraton menggelar wilujengan dengan warga masyarakat. Dalam keterangannya kepada wartawan saat labuhan di Plawangan, GRAy Koes Moertiyah mengatakan, labuhan adalah syarat raja yang baru PB XIII. '' Ini memang syarat, bukan sedekah,'' katanya. (shj-92m) |