logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 PANTURA
Line

Sungai Gangsa, Ladang bagi Topano

SUNGAI Gangsa, Brebes merupakan ladang bagi Topano (27). Sebab, dari sanalah lelaki ramah itu menggantungkan hidupnya. Dengan modal sebuah perahu, dia mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menafkahi keluarganya.

Topano adalah seorang penambang perahu yang setiap hari menjual jasa menyeberangkan penumpang dari tepi Sungai Gangsa yang satu ke tepi lainnya.

Jasanya sangat dibutuhkan masyarakat sekitar kawasan Desa Randusanga Wetan dan Desa Kajongan Deli, terutama mereka yang tidak memiliki kendaraan bermotor. Sebab tanpa jasa perahu Topano, untuk pergi ke Kota Tegal mereka harus berjalan memutar sejauh kurang lebih 3 kilometer.

Meski ongkos penyeberangan resminya Rp 1.000, dia tidak menolak menyeberangkan penumpang yang tidak mempunyai uang. "Bayar Rp 1.000 ya bersyukur alhamdulillah, Rp 500 saya diterima, nunut juga boleh," katanya lugu.

Berapa pun yang dibayar penumpang dia terima dengan ikhlas. Dari hasil menyeberangkan penumpang, Topano memperoleh penghasilan rata-rata Rp 25.000 setiap harinya.

Uang sebanyak itu hanya cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya sehari-hari.

Sebelum nasib melemparkannya ke Sungai Gangsa, Topano telah melakukan berbagai pekerjaan. Mulai dari kuli bangunan hingga berdagang.

Namun dari sana keberuntungan belum juga menghinggapinya. Saat berdagang bawang di beberapa pasar tradisional di Brebes, ia mengaku sering tekor.

Tidur di Warung

Setelah mengalami peristiwa tersebut, ia pun memutar otak untuk menghidupi keluarga. Maka ketemulah ide bekerja sebagai tukang perahu penyeberangan di Sungai Gangsa.

Sedikit demi sedikit penghasilan bekerja serabutan dia kumpulkan, sehingga mampu membeli sebuah perahu untuk modal kerja.

Selama bekerja sebagai penambang perahu di Sungai Gangsa, Topano hanya sendirian.

Setiap malam dia tidur di warung tak jauh dari pangkalan perahunya.

Musim penghujan seperti sekarang ini membuat laki-laki bertubuh tinggi ini tidak tenang.

Sebab, banjir yang datang sewaktu-waktu bisa menghanyutkan perahunya.

Jika hujan turun di malam hari dia harus terpaksa begadang. Belum lagi tenaga ekstra yang harus dia keluarkan untuk membersihkan lumpur di tangga menuju dermaga.

"Jam 03.00 pagi saya harus membersihkan lumpur, biar besoknya kaki penumpang tidak kotor," kata dia.

Kini, tuturnya, pengguna jasa perahunya tak sebanyak dulu. Sebab warga sekitar banyak yang telah memiliki kendaraan bermotor.

"Yang paling ramai itu pagi sama sore hari. Karena banyak warga dari Desa Randusanga Wetan pergi ke Kota Tegal," ujarnya.

Jasa perahu penyeberangan ibarat sudah menyatu dalam kehidupan Topano, Setiap hari ratusan orang dia seberangkan dengan perahu miliknya.

Masyarakat sudah mengenal akrab lelaki itu. Sebab sudah hampir lima tahun dia menggeluti jasa penyeberangan baik orang, ternak, sepeda kayuh maupun sepeda motor dengan perahunya. (Wawan Hudiyanto-34)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA