logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 PANTURA
Line

Jalin Kerukunan lewat Seni Kentongan

KESENIAN, apabila dipahami secara utuh akan mampu mempererat tali persaudaraan. Seni tidak mengenal batas-batas, tua atau muda, golongan atau perbedaan ras.

Itu sudah dibuktikan oleh Paguyuban Seni Kentongan Dadung Wulung dari Desa Tonjong, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes.

Meski baru berusia relatif muda, perkumpulan itu -sebagaimana dikemukakan pembinanya dokter Sartono-, ternyata mampu mempererat kerukunan antarpemuda desa.

Berangkat dari banyaknya anak muda lulusan SMP dan SMA yang belum dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, karena alasan biaya, Sartono yang menjabat Kepala Puskesmas Tonjong mempunyai pemikiran untuk mendirikan kelompok kesenian kentongan. Dia pun kemudian mengajak para tokoh masyarakat untuk mewujudkan cita-citanya tersebut.

Setelah berhasil mengumpulkan dana Rp 1,7 juta, dia membeli seperangkat alat musik kentongan yang tak beda dengan angklung atau calung.

Terdiri atas angklung, saron, teplak, beduk besar, beduk kecil, dan seruling. Setelah itu, mengundang pelatih dari Grup Singo Laras, Banyumas. Dalam waktu kurang satu minggu, anak didiknya sudah mampu menguasai seni kentungan tersebut.

''Kebetulan, salah satu pemain sudah menguasai organ dan alat musik lain, sehingga latihan cukup tiga kali,'' kata Sartono.

Grup Dadung Wulung sengaja dibuat dengan melibatkan banyak orang. Itu dimaksudkan, selain kebutuhan, juga untuk menampung lebih banyak pemain. Dia berharap, dengan banyak anak muda terlibat kegiatan itu, mereka akan tersalurkan keahliannya.

''Yang penting bagi saya, anak-anak jangan banyak menganggur. Mereka harus tersalurkan dalam sebuah kegiatan yang positif,'' paparnya.

Bukti dari kerja keras itu, terwujud dengan kegiatan seni kentongan tersebut. Kalangan muda menjadi lebih akrab, serta merasa senasib dan sepenanggungan. Tawuran antarpemuda, juga bisa dihindari.

Bahkan, pengaruh minuman keras dan norkoba bisa dengan cepat diantisipasi, karena ada komunikasi yang cepat antarpemuda itu.

Tentang pemilihan nama Dadung Wulung, lanjut Sartono, dadung berarti tali, dan wulung adalah bambu hitam. Pendek kata, dengan nama tersebut, dia mengharapkan dengan bambu mereka akan lebih meningkatkan persaudaraan.

Sartono mengaku, meski usia grup yang dia dirikan masih amat muda, namun anak-anak sudah begitu hafal dengan lagu-lagu. Terdapat sekitar 40 lagu yang sudah mereka kuasai, termasuk lagu baru dari Paterpan yaitu "Ada Apa denganmu".

Gerak Lagu

Yang sulit dalam setiap latihan, adalah menyamakan antara gerak dan lagu, karena setiap lagu yang mereka tampilkan harus diselaraskan dengan gerak. Untuk itu, perlu pemandu atau lebih keren dirijen yang lihai. Sartono, kini mengaku sedang melatih dirijen supaya bisa tampil prima.

Supaya bisa tampil prima, grup itu Sabtu malam dan Minggu kemarin mulai diajak tur ke Kota Brebes. Mereka tampil di Alun-alun Kota Brebes, dan perkampungan Limbangan Indah Brebes.

Penampilan itu, sekaligus mereka manfaatkan untuk penggalangan dana korban tsunami yang ada di Kabupaten Brebes.

''Teman-teman ingin membantu korban tsunami yang ada di Kecamatan Banjarharjo. Mereka kembali dari Aceh, dan kini sangat membutuhkan uluran tangan,'' paparnya. (Wahidin Soedja-34a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA