logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 PANTURA
Line

Kapal Sripulung Terbakar di Perairan Surabaya

BATANG - Kapal Motor (KM) Sripulung Rejeki milik Saryoto (45), warga Kelurahan Klidang Wetan, Kecamatan Kota, Batang, baru-baru ini diketahui terbakar dan akhirnya tenggelam di perairan Surabaya.

Diduga, penyebab terbakarnya kapal jenis cantrang besar yang baru setengah tahun dioperasikan dan baru empat kali melaut itu, adalah karena salah satu mesinnya terbakar. Untung saja, kapal cantrang lainnya yang secara tidak sengaja datang ke tempat itu melihat ada kapal yang terbakar, sehingga dapat segera memberikan pertolongan, dan seluruh awak kapal yang terbakar bisa selamat.

KM Sripulung Rejeki yang di nahkodai Durhan (40), rencananya akan mencari ikan di sekitar perairan Matasari dekat Kalimantan. Namun belum sampai kapal itu tiba di lokasi yang di tuju, musibah sudah terlebih dulu terjadi. Padahal, KM Sripulung tergolong kapal yang memiliki fasilitas lengkap, karena sudah di lengkapi dengan radio kamunikasi dan alat JPS. Musibah itu menyebabkan kerugian sekitar Rp 500 juta, namun semua awak kapalnya selamat. Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, kapal tersebut berangkat dari pelabuhan Batang, Kamis (3/2) sekitar pukul 19.00.

Ketika akan berangkat, sudah ada tanda-tanda yang tidak beres pada mesin. Kapal itu kembali ke pelabuhan Batang, setelah dua jam melaut. Pasalnya, salah satu mesin kapal mengalami kerusakan. Setelah diperbaiki, kapal tersebut kembali melaut.

Uji Coba

Selanjutnya, Jumat (4/2) ketika berada di sekitar perairan Surabaya, kapak itu berhenti sebentar untuk melakukan uji coba jaring dan mesin penarik yang akan dipergunakan menangkap ikan.

Uji coba itu diperlukan, agar saat akan dipergunakan untuk mencari ikan nanti jaring dan mesin penariknya bisa berfungsi secara baik. Hal itu biasa di lakukan oleh kapal-kapal yang masih tergolong baru, seperti kapal Saryanto.

Setelah uji coba dan menilai tidak ada masalah, nahkoda dan ABK beristirahat makan di bagian depan kapal. Pada saat awak kapal sedang berada di depan, tiba-tiba terjadi kebakaran yang di duga berasal dari salah satu mesin.

"Menurut nahkoda, kebakaran berasal dari salah satu mesin kapal, namun tidak tahu dari mesin yang mana. Jika melihat posisi solar berada di bawah, kuat dugaannya api berasal dari solar yang tertumpah saat diisikan dan mengenai mesin," kata Kadimah (40), istri Saryanto yang baru mendengar musibah itu Minggu (6/2).

Menurut cerita, lanjut dia, setelah api berkobar, awak kapal ada yang berinisiatif untuk meminta bantuan kepada kapal lain dengan radio komunikasi. Namun karena letak ruangan radio berdekatan dengan ruang mesin yang terbakar, radio itu tidak dapat digunakan untuk meminta bantuan. Namun, awak kapal yang lain tetap berada di atas kapal sambil menunggu bantuan, meskipun beberapa bagian kapal sudah mulai terbakar.

Setelah musibah itu, Kadimah dan suaminya terlihat pasrah. Mereka harus rela kehilangan kapal dan menanggung kerugian sebesar Rp 500 juta. "Saya berusaha melupakan kejadian itu, tapi tidak bisa karena setiap kali sendirian selalu teringat musibah tersebut," keluh dia. (H4-34a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA