logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 PANTURA
Line

PMPCL Usul Penghijauan Pantai Pekalongan

PEKALONGAN- Paguyuban Masyarakat Pesisir Cinta Lingkungan (PMPCL) Pekalongan dengan mitra kerja Fakultas Perikanan Univeritas Pekalongan (Unikal), mengusulkan ke Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Kehutanan serta Departemen Kebudayaan dan Pariwisata agar di Pantai Pekalongan dilakukan penghijauan dan ekowisata. Dengan upaya itu, diharapkan dapat mencegah terjadinya abrasi sekaligus membangun kawasan wisata di pantai.

Dekan Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan Ir Hadi Pranggono MPi yang dihubungi kemarin mengatakan, usulan itu dilakukan setelah paguyuban yang dipimpin Ir Bangun Yudhi melihat pantai pesisir Pekalongan memprihatinkan karena digerus gelombang laut. "Tidak tanggung-tanggung, untuk keperluan itu paguyuban langsung mengirimkan usulan ke tiga departemen," katanya.

Hanya, tiga lokasi itu usulannya berbeda. Misalnya yang ke Departemen Kehutanan dengan usulan Pengembangan dan Pengelolaan Mangrove, sedangkan ke DKP mengenai Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir melalui Pengembangan Ekowisata dan Penghijauan Pantai Kota Pekalongan.

Dari usulan itu, mendapat respons terutama Departemen Kehutanan yang meminta paguyuban agar menghubungi ke Balai Pengelolaan DAS Semarang. Dengan usulan Pengembangan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Wilayah Pesisir.

Namun sayang, ketika ke Semarang perencanaan untuk tahun ini sudah diketok. Yang membuat lucu, kata dia, usulan dari Kota Pekalongan tahun ini malahan tidak ada. Justru Kabupaten Pekalongan dan Pemalang yang mengusulkan. "Memang beberapa tahun sebelumnya pernah dari Kota Pekalongan mengusulkan, tetapi usulan itu hanya untuk lahan enam hektare sehingga tidak menjadi prioritas," kata Hadi.

Usulan ke Semarang yang dilakukan paguyuban, ungkap dia, berupa penghijauan dengan ekosistem mangrove. Untuk mewujudkan itu memerlukan tanah seluas 85 ha, dengan rincian 30 ha hutan nonbakau dan 55 ha hutan bakau. Dia mengakui, dalam rencana tersebut akan ada masalah dengan pemilik lahan. Namun kalau memang ada anggaran dari pemerintah, itu bisa diselesaikan.

Mengenai ekowisata yang diajukan ke DKP, menurut dia, perencanaan tersebut dinilai terlambat. "Usulan itu mestinya bisa dimasukkan dalam program mitra bahari."

Usulan ekowisata diajukan, kata dia, dengan harapan di pantai Pekalongan akan tumbuh penghijauan berupa hutan bakau, sedangkan di sekelilingnya dibangun jalan seperti sirkuit untuk arena balap sepeda motor.

"Ini untuk memberikan kesempatan anak-anak muda yang hampir setiap malam selalu kebut-kebutan di jalan umum, seperti Jalan Majapahit dan Jalan Sriwijaya yang membahayakan pengguna jalan raya. Dengan demikian, hal itu akan dapat menumbuhkan bakat pembalap bagi anak-anak muda," katanya.

Restoran Apung

Selain itu, di sekitarnya dibangun tempat restoran apung. Di mana pembeli yang akan menuju restoran harus naik perahu. Ini sangat menarik, sehingga bisa menumbuhkan ekonomi baru di pantai. "Itu baru usulan agar terjadi ekosistem yang baik di pesisir sekaligus mencegah abrasi yang menggerus tanah-tanah pantai," katanya.

Kepala Kantor Pariwisata Pekalongan Totok Parwoto SSos menyambut positif. Sebab kalau usulan itu bisa terealisasi, maka pantai Pekalongan akan ramai dan menjadi tempat wisata baru. "Itu sangat dinantikan oleh masyarakat Pekalongan. Hanya, semuanya harus ditata dengan baik."

Mengenai masalah lahan, kata Totok, harus diperhatikan. Kalau tanah itu berupa bengkok kelurahan, berarti aset Pemkot. Maka harus seizin pejabat berwenang, agar tidak muncul masalah di kemudian hari.

Menurutnya, zona mangrove berupa ribuan tanaman bakau dan ketapang, dapat bermanfaat sebagai penahan gelombang sehingga bisa mencegah abrasi pantai. (A15-14s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA