logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 PANTURA
Line

Satai Kerbau H Wasduri

Lebih Empuk dan Kolesterolnya Rendah

BELUM ada lima menit menarik napas seusai melayani pembeli, Indah (25), penjual satai kerbau di Jalan Raya Amboekembang, Kedungwuni, Pekalongan kembali harus melayani pembeli.

Beberapa tusuk satai lengkap dengan sambal dan ketupat dengan cepat disajikan kepada dua pembeli yang memesannya. Melihat gerakan tangan Indah yang cepat, tidak ada yang mengira dia belum genap dua bulan menjalani profesinya sebagai tukang satai. "Saya baru lima puluh hari berjualan setelah ayah saya meninggal," tuturnya kepada pembeli yang menanyakan kabar ayahnya.

Warung satai kerbau di depan RSI Pekadjangan tersebut biasanya memang dijalankan H Wasduri. Namun, sekitar dua bulan lalu dia meninggal dan usaha satai kerbau yang sudah digelutinya selama 50 tahun lebih tersebut kini diteruskan anak tunggalnya, Indah.

Nama H Wasduri sebagai penjual satai kerbau di daerah Kedungwuni dan sekitarnya memang sudah terkenal. Dengan demikian, meskipun dia telah tiada, warung satai yang tetap diberi nama warung satai kerbau H Wasduri itu, ramai dikunjungi pembeli.

Pembeli seolah tak mau tahu, Indah sekarang betanggung jawab penuh terhadap penjualan satai tersebut. Padahal, sebelumnya dia sama sekali tak tahu-menahu tentang teknis pembuatan satai yang telah menjadi tumpuan hidup keluarganya puluhan tahun. "Sebelum mengembuskan napas terakhirnya karena stroke, ayah berwasiat agar saya meneruskan usahanya," ungkap dia soal kenapa mau meneruskan usaha ayahnya.

Padahal, dia mengaku sebelumnya tidak pernah membantu dalam proses pembuatan satai saat ayahnya masih hidup. "Jadi, saya sama sekali tak tahu soal bumbu dan sebagainya. Untuk awal, bahkan saya minta bantuan bude saya," ucapnya.

Meski kehidupan ekonominya bisa dibilang sudah mapan, Indah merasa mempunyai kewajiban untuk meneruskan usaha yang bagi kehidupan ayahnya sudah seperti ruh. "Usaha satai kerbau ini bagi ayah saya adalah segalanya, karena dengan satai tersebut dia bisa menikah, membangun rumah, pergi haji, dan menyekolahkan saya."

Ayahnya, sambung dia, awalnya berjualan di sekitar Jalan Imam Bonjol Kota Pekalongan, 50 tahun lalu. Berkat kerja kerasnya, H Wasduri dapat membeli sepeda dan berjualan berkelilig ke Kota/Kabupaten Pekalongan

Setelah berjualan keliling dan usaha itu berkembang cepat, Wasduri tidak hanya bisa mengumpulkan uang untuk menikah namun juga membangun rumah. Pada 1995, dia bahkan siap berangkat pergi haji ke Tanah Suci. Namun sebelum berangkat, laki-laki itu mengalami berbagai cobaan, seperti jatuh dari atap rumah hingga tak lagi bisa mengendarai sepeda dan terkena penyakit dalam.

"Sejak itu ayah tak lagi bisa berkeliling jual satai," ucap Indah sambil menyembunyikan kesedihannya.

Wasduri kemudian mengontrak beberapa meter tanah di Jalan Raya Ambukembang, Kedungwuni, dan berjualan satai di situ hingga mengembuskan napas terakhirnya.

Tetap ramai

Usaha keras H Wasduri untuk menjalankan usaha satai kerbau ternyata berbuah manis. Meski dirinya telah tiada dan diteruskan anak tunggalnya, warung satainya tetap ramai. Daging satai kerbau yang gurih, lembut, dan manis itu memang banyak disukai pembeli.

Daging satainya memang lebih lembut karena proses pembuatannya berbeda dari yang lainnya. Sebelum disatai, daging kerbau lebih dulu direbus. Setelah itu diiris dan dibumbui, baru disatai dan dibakar. Karena itu, rasanya lebih lembut dibandingkan dengan satai kambing atau ayam.

Penggemar satai kerbau H Wasduri terbilang fanatik dan rata-rata berusia 50-an tahun ke atas karena kadar kolesterolnya lebih rendah dibandingkan dengan daging kambing atau sapi.

"Setiap pergi ke Kedungwuni, saya selalu mampir untuk beli satai Wasduri," tutur H Munif, warga Kelurahan Jenggot, Kota Pekalongan.

Pernyataan tersebut juga ditandaskan Nuryati (50), warga Wiradesa yang mengaku penggemar satai kerbau. "Biar aman saya makan satai kerbau." (Muhammad Burhan-42j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA