logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 PANTURA
Line

Siswa SDN 1 Trayeman Ngungsi

SLAWI- Buntut ambruknya SD Negeri 1 Trayeman, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, Selasa (8/2) lalu, membuat proses belajar-mengajar sebagian siswa sekolah itu harus mengungsi ke Madrasah Diniah Awaliah (MDA) Mubtadi'in.

Siswa yang mengungsi ada tiga kelas, yakni kelas III, IV, dan V, sedangkan kelas I, II, dan VI tetap dapat mengikuti pelajaran di sekolah itu. Siswa kelas VI menggunakan ruang kelas III, sementara satu ruang kelas lagi tetap dipergunakan secara bergantian oleh siswa kelas I dan II.

Kondisi ruang kelas sekolah yang masih dapat digunakan untuk belajar-mengajar tersebut, kini tinggal tiga ruang. Jika terjadi hujan deras atau angin kencang, guru-guru langsung mengantisipasi untuk menghindari kemungkinan buruk yang bakal terjadi, seperti peristiwa Selasa lalu.

"Kalau hujan deras kami ya waspada. Ya antisipasi, barangkali ruangan ambruk karena kondisi ruang kelas yang masih dapat dipergunakan sebenarnya harus diperbaiki agar aman dari ancaman ambruk," tutur Kepala Sekolah (Kasek) SD Negeri 1 Trayeman, Karoli, kemarin.

Dia mengatakan, akibat ruang kelas V ambruk, ruang kelas IV dan VI tidak bisa dipergunakan. Pihaknya mengambil kebijakan untuk mengalihkan proses belajar-mengajar ke madrasah yang terletak sekitar 300 meter dari sekolah tersebut.

Rehabilitasi Total

Secara terpisah, baik Wakil Bupati Tegal HM Hammam Miftah SAg MM maupun Sekda H Moch Hery Soelistiyawan SH MHum mengatakan, akibat ambruknya ruang kelas sekolah itu, pihaknya telah mengambil kebijakan untuk melakukan rehabilitasi total. Sebab hampir seluruh ruang kelas sudah harus diperbaiki, terutama kondisi kayu belandar, usuk, dan seng sudah banyak yang keropos dimakan rayap.

"Temboknya sebagian besar masih bisa dipertahankan. Paling di beberapa bagian harus dilakukan perbaikan akibat tembok yang ikut runtuh," tutur HM Hammam Miftah.

Menyinggung biaya perbaikan yang dibutuhkan, Pemkab Tegal menganggarkan sekitar Rp 150 juta, dengan rincian untuk lima ruang kelas masing-masing Rp 30 juta. Biaya sebesar itu dapat diambil dari anggaran bencana alam atau anggaran lain yang bersifat mendahului persetujuan Dewan.

Menurut dia, diperkirakan RAPBD yang sedang dibahas eksekutif dan legislatif selesai menjelang akhir bulan ini. Karena itu, jika menunggu selesainya pembahasan akan memengaruhi proses belajar-mengajar. Apalagi dalam beberapa bulan lagi akan berlangsung ujian tertulis.

"Untuk mempercepat selesainya pekerjaan, proyek rehabilitasi total sekolah dasar ini secepatnya akan segera dikerjakan," katanya. (D12-74s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA