logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 PANTURA
Line

Bidan Harus Buka Diri

SEORANG bidan yang bertugas di pedesaan memang harus membuka diri. Maksudnya, harus mau menerima masukan dari berbagai pihak demi peningkatan kemampuannya.

"Pengetahuan dan ilmu setiap saat terus berkembang. Kalau tidak mau membuka diri, akan tertinggal. Jadi, seorang bidan harus mau belajar dan terus belajar meningkatkan kemampuannya," tutur Direktur Akademi Kebidanan Bhakti Mandala Husada (Akbid Bhamada) Slawi, Tri Agustina Handayani SST (25).

Imbauan untuk membuka diri itu, kata direktur PTS yang akan mengakhiri masa lajangnya dalam pekan ini tersebut, karena dirinya merasa prihatin terhadap kondisi bidan sekarang. Sebab, banyak bidan yang merasa puas dengan profesi yang ditekuninya.

Menurut dia, kondisi perekonomian seorang bidan yang rata-rata cukup mapan dibanding dengan masyarakat pedesaan, kadang bisa melenakan.

Karena sudah cukup mapan atau berhasil menggaet pasien cukup banyak, di antara mereka banyak yang merasa puas dengan kondisi seperti itu.

Padahal jika melihat persaingan alumni akademi kebidanan atau sekolah tinggi, kualitasnya terus meningkat. Karena itu, dengan modal kemapanan ekonomi yang telah dimiliki para bidan itu, dirinya menganggap masalah peningkatan kemampuan dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi sebenarnya bukan persoalan yang terlalu membebani.

Tingkatkan Pelayanan

Keuntungan jika mau menambah pengetahuan dan ilmu bagi seorang bidan, tutur dia, sebenarnya cukup banyak. Antara lain, dapat menjadi jaminan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat pedesaan.

Dengan bekal pengalaman lapangan selama bertugas, tentu mereka akan mendapat jalan keluar semaksimal mungkin ketika menerima semua mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi.

Kalau toh ilmu dan pengetahuan tambahan telah didapat, sebenarnya masih ada satu hal lagi dalam meningkatkan pelayanan. Hal penting yang tidak bisa dilewatkan begitu saja adalah mengasah keterampilan, misalnya keterampilan dalam membantu proses persalinan ibu-ibu di desa.

"Semakin banyak bidan ini mengasah keterampilan dan keahliannya dalam proses membantu persalinan, tentu hal itu akan membuat pasiennya senang karena pelayanan yang diberikan akan dapat memberikan ketenangan terhadap si pasien," tutur direktur berusia muda yang baru dilantik pekan lalu itu.

Dia yang tinggal di Kelurahan Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal itu mengingatkan, dengan semangat seperti itu diharapkan kehadiran bidan desa itu dapat mengurangi angka kematian ibu saat melahirkan.

Meski tidak tahu persis datanya, dia yakin angka kematian seperti itu sudah memprihatinkan. Karena itu, untuk meminimalkannya, butuh kesadaran seorang bidan untuk mau membuka diri terhadap cara-cara tersebut. (Riyono Toepra-14n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA