logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 PANTURA
Line

Rugi Rp 10 Juta untuk Cari Investor

TEGAL- H Sugeng Ridwan SE kemarin mengaku menderita kerugian materi hampir Rp 10 juta. Uang itu dikeluarkan dari kantong pribadi, antara lain Rp 3,5 juta untuk membayar iklan di tiga media cetak di Jakarta.

Dia memasang iklan untuk mencari calon investor yang tertarik membeli Rumah Sakit Texin (RST). Sugeng bertindak demikian karena merasa pernah dimintai pertolongan oleh Yayasan Rumah Sakit Islam (YRSI) yang mengelola RST.

"Yang meminta pertolongan kepada saya adalah Pak Nurcholis Mustofa (mantan Direktur RST saat dikelola oleh YRSI)," katanya. Menurut Sugeng, sejak dirinya memasang iklan banyak calon investor asal Jakarta yang menghubunginya. Bahkan ada di antaranya, Bob, yang berani membeli Rp 8 miliar.

Dia mengakui, tak dijanjikan akan mendapat uang jasa atas penjualan itu oleh Nurcholis. Namun sesuai dengan profesinya, dia ingin mendapatkan keuntungan. Maka, dia memasang iklan dan harus bolak-balik ke Jakarta karena diundang oleh beberapa calon investor.

Antara lain Pimpinan Bank Mandiri Jakarta Pusat, Ny Viole. Bank tersebut menyarankan agar meminjam di Bank Mandiri Pekalongan, karena nilai pinjaman di bawah Rp 10 miliar.

Atas petunjuk itu, kata Sugeng, terbukti YRSI dan 10 dokter penjamin utang meminjam di Bank Mandiri Pekalongan. Namun hingga kini dia belum mendapatkan apa-apa, kendati sudah mengeluarkan uang cukup banyak.

Dalam kaitan itu, dia menyayangkan peran YRSI yang seolah kalah suara dengan 10 dokter penjamin, sehingga kedudukan yayasan terkesan kena tendang.

Saat ikut menjualkan aset tersebut, Sugeng mengaku banyak berhubungan dengan Nurcholis dan Direktur RST dokter Wahyu Heru Triyono serta Kuncoro, Direktur PT ISN Pusat Jakarta.

"Terus-terang saya hanya diadem-ademi oleh Pak Nurcholis yang menyatakan itu sebagai ibadah," tukasnya. Mengenai perkembangan laporannya ke Komisi Ombudsman Nasional, kata Sugeng, dirinya sudah dihubungi oleh pihak Menteri BUMN yang menyatakan sewaktu-waktu akan diundang untuk memberikan keterangan.

Diberi Kesempatan

Nurcholis kemarin mengakui pernah meminta tolong kepada Sugeng. Yang bersangkutan juga sudah membantu dengan baik. Namun dia tak pernah menyuruh agar yang bersangkutan memasang iklan. "Itu kan urusan dia sendiri."

Menurutnya, dirinya sudah memberikan kesempatan kepada Sugeng untuk segera merealisasikan pembayaran. Sejak Oktober 2004 lalu, dia juga berkali-kali meminta kepada Sugeng untuk merealisasikan pembayaran.

Berdasarkan referensi dari Sugeng, dia juga pernah mendatangi calon investor di Jakarta. Namun hasilnya tak ada, padahal hari pertemuan sudah ditentukan.

Karena sudah diberi kesempatan dan Sugeng berkali-kali dipanggil namun tak pernah memenuhi panggilannya, kata Nurcholis, maka dirinya harus mencari pihak lain yang bersedia membeli RST. Akhirnya ketemulah sejumlah dokter.

"Terus-terang saya harus pontang-panting mencari investor demi menyelamatkan 170 karyawan rumah sakit agar tak kena PHK," tandasnya.(aj-14s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA