| Sabtu, 12 Februari 2005 | NASIONAL |
Gerakan Pembaruan PDI-P Inginkan Regenerasi
SEMARANG - Gerakan pembaruan PDI-P menginginkan adanya regenerasi di tubuh partai itu. Sebuah partai, tidak bisa hanya bergantung kepada satu kharisma seorang tokohnya. ''Kalau PDI-P hanya mengandalkan satu kharisma, tidak akan kuat. Buktinya, dalam Pemilu Legislatif maupun Pilpres 2004, suara PDI-P hancur,'' ungkap mantan Wakil Ketua Litbang PDI-P, Sukowaluyo Mintorahardjo saat berorasi dalam deklarasi pembaruan PDI-P tingkat Jateng di Gedung Panti Marhaenis Semarang, Jumat (11/2) kemarin. Selain regenerasi, Sukowaluyo juga menyebutkan perlunya PDI-P melakukan rekonsiliasi, revitalisasi, dan reorganisasi. Menurut dia, PDI-P memerlukan kekuatan untuk membangun demokrasi dan keadilan. Regenerasi dan rekonsiliasi, lanjutnya, akan mendorong terciptanya revitalisasi, baik secara ideologis, visi, maupun misi partai. Deklarasi tersebut, dihadiri ratusan simpatisan. Selain Sukowaluyo, hadir pula Ketua Dewan Penasihat Pembaruan PDI-P Jateng, Mardijo, Koordinator Didi Supriyanto, Wakil Koordinator Potsdam Hutasoit, Perwakilan Aceh Zulfikar, dan perwakilan Sumatera Barat Peter Sutanto. Pendukung Mardijo yang bergabung dalam Komar juga ikut memeriahkan deklarasi. Bahkan, sejumlah orang mengenakan kaus bergambar Guruh Soekarnoputra. Guruh menjadi salah satu tokoh yang dimunculkan oleh kelompok tersebut, sebagai kandidat Ketua Umum PDI-P dalam Kongres di Bali, Maret mendatang. Muncul pula nama Arifin Panigoro, Sophan Sophiaan, Laksamana Sukardi, Roy BB Janis, dan Kwik Kian Gie. Acara yang dijaga ketat polisi itu, ditandai dengan pembacaan naskah deklarasi oleh simpatisan. Naskah itu mengatasnamakan arus bawah PDI-P di Jateng, yang prihatin dengan kondisi dan perkembangan partai. Mereka menyatakan dukungannya terhadap gerakan nonstruktural atau gerakan arus bawah yang menginginkan pembaruan di internal PDI-P. DPP diminta untuk menyelesaikan persoalan di daerah ke dalam Kongres Bali, sebab permasalahan itu mengakibatkan turunnya perolehan suara PDI-P dalam Pemilu 2004. Mereka juga menyerukan seluruh elemen PDI-P membuka diri untuk menciptakan pembaruan. Acara itu, diisi pula dengan aksi teatrikal oleh kelompok mahasiswa. Aksi itu, menggambarkan jatuhnya seorang pemimpin organisasi karena gerakan arus bawah. Seorang pemimpin yang jatuh, diperankan oleh perempuan. Mardijo dalam orasinya menyatakan, dia baru saja melakukan kontak telepon dengan Guruh Soekarnoputra. ''Mas Guruh berada di belakang kami. Selain Mas Guruh, Arifin Panigoro, Sophan Sophiaan, Roy BB Janis, dan Noviantika Nasution juga memberikan dukungan,'' kata Mardijo disambut tepuk tangan. (G1,G7-69a) |