logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 NASIONAL
Line

Budaya Perusahaan Ciptakan Rasa Aman


POTONG TUMPENG: Ny Sarsa Budi Santoso memotong tumpeng dalam rangka syukuran memperingati HUT Ke-55 Suara Merdeka di aula redaksi, Jalan Raya Kaligawe Semarang, Jumat (11/2).(55a) - SM/Sutomo

ADA tiga hal yang menjadikan Suara Merdeka mampu bertahan dalam usia 55 tahun sekarang ini. Pertama, rida Allah. Kedua, loyalitas dan dedikasi karyawan yang tinggi; dan ketiga, budaya perusahaan yang kondusif.

Demikian dikatakan Pemimpin Umum, Ir H Budi Santoso, saat memberikan sambutan dalam acara HUT Ke-55 Suara Merdeka, di Kantor Redaksi Jalan Raya Kaligawe Km 5 Semarang, Jumat (11/2) kemarin.

Hadir antara lain Ny Sarsa Budi Santoso, Direktur Suara Merdeka Kukrit Suryo Wicaksono, Pemimpin Redaksi Sasongko Tedjo, dan sejumlah undangan, antara lain Rektor IAIN Walisongo Prof Dr H Abdul Djamil MA, Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Prof Dr H Abu Suud, serta Ketua DPD Partai Golkar Jateng Bambang Sadono SY SH MH.

Rida Allah, kata Budi Santoso, diberikan lantaran harian ini telah membudayakan kehidupan beragama di lingkungan perusahaannya semenjak awal berdiri hingga sekarang. Pembangunan Masjid Al Makmun, menjadi bukti nyata akan hal itu. Tak kurang-kurang para karyawan yang menjadi jamaah memakmurkannya. Terlebih pada saat Ramadan, banyak aktivitas keagamaan yang digelar di masjid itu. Belum lagi, setiap tahun Suara Merdeka juga memberangkatkan sejumlah karyawannya menunaikan ibadah haji.

"Dulu kita baru mampu mengirimkan dua karyawan ke Tanah Suci. Alhamdulillah, sekarang setahun sudah empat orang. Saya dengar tahun ini karyawan dan keluarganya yang berangkat dengan biaya sendiri mencapai 18 orang. Itu tandanya sudah padha kaya semua," katanya.

Loyalitas dan dedikasi karyawan, juga memberi saham penting. Jika dilihat, persentase ke luar-masuk karyawan teramat kecil.

Itu pertanda, betapa tingkat kesetiaan karyawan kepada perusahaan cukup tinggi. Budi Santoso mencontohkan sejumlah karyawan yang tetap setia berkarya pada usia merembang senja.

Adapun budaya perusahaan yang kondusif, kata Budi Santoso, menciptakan suasana kerja yang aman dan nyaman. Hal itu telah dibina almarhum H Hetami semenjak awal mula mendirikan surat kabar tersebut. Hetami senantiasa menanamkan filosofi luhur, baik dari ranah kejawaan maupun keagamaan. Taruh saja misalnya "Gemi, nastiti, ati-ati", "bayarlah upah karyawanmu sebelum keringatnya mengering", atau "bekerjalah kamu seolah-olah masih hidup 1.000 tahun lagi, dan beramallah kamu seolah-olah akan mati besok".

Suara Merdeka sebagai sebuah perusahaan, punya karakter khusus yang tak bisa diperbandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain. Meski dikelola dengan manajemen kekeluargaan, namun tetap mengedepankan sisi profesionalisme.

"Proses di dalam, seperti itu; tapi keluarnya harus bisa ditandingkan dengan koran lain dan dibanggakan oleh masyarakat. Kita bersyukur, masih bisa menapaki usia ke-55. Untuk itu, kita tatap masa depan beserta tantangan yang menghadang. Jadi, korannya boleh tua, orangnya tetap muda."

Persoalan budaya perusahaan, kembali ditekankan Budi Santoso. Saat menuliskan pesan dan kesan HUT di atas kanvas putih, kalimat yang dia torehkan adalah: "Budaya perusahaan membuat aman dan nyaman kita bekerja."

Desain Kantor

Peringatan kemarin cukup istimewa, karena tak hanya memberikan beasiswa, penghargaan bagi karyawan maupun agen berprestasi, dan hadiah bagi pemenang lomba. Perusahaan juga menyerahkan bantuan ambulan kepada PMI Cabang Solo dan RSUD Unit II Banyumas, hadiah lomba desain kantor Suara Merdeka Group Jalan Pandanaran, lomba logo 55 tahun, lomba jinggle, dan peluncuran dua buku.

Pada 2005, penghargaan untuk jajaran redaksi tak hanya diberikan kepada wartawan, namun juga redaksi. Ditetapkan sebagai wartawan berprestasi Jamal Al Ashari, Setiawan Hendra Kelana, Bambang Purnomo, Arie Widiarto, dan Agus Toto Widiatmoko. Adapun redaksi berprestasi diraih Edisi Minggu, Jateng Selatan, dan Internasional. Ada juga penghargaan kepada wartawan pemula berbakat yang diraih Rukardi dan Anton Wahyu Hartono.

Tumpeng ulang tahun dipotong oleh Ny Sarsa Budi Santoso, dan diserahkan kepada karyawan berprestasi 2004 dan karyawan Masscom Graphy tertinggi masa kerjanya (34 tahun), yakni Wahono dari bagian setting.

Untuk lomba desain kantor, semuanya dimenangkan oleh peserta dari Bandung. Hadiah diberikan oleh Budi Santoso kepada Ir Achmad Deny Tardiyana (juara I), Arief Widjananto Dantin (II), dan Prasetya Hutama (III). Adapun lomba cipta logo 55 tahun dimenangkan Gunawan Pranyoto (perencanaan produksi cetak umum Masscom Graphy).

Lomba jinggle dimenangkan Donny Andriyani Kurniawan sebagai juara I, sedangkan juara II diraih Rudi Siswantoro. Sementara itu buku baru berjudul 55 Tahun Mengabdi untuk Jawa Tengah diserahkan kepada Rektor Unimus, Prof Dr H Abu Suud; sedangkan satu lagi dengan judul Meletakkan Demokrasi yang berisikan tajuk rencana di era reformasi diserahkan kepada Rektor IAIN Walisongo, Prof Dr H Abdul Djamil.

Dalam acara itu, Pemred Sasongko Tedjo juga berkesempatan menyerahkan piagam penghargaan kepada Jamal Al Ashari (wartawan berprestasi 2004), Rukardi (wartawan pemula berbakat), dan Dra Hj Soesetyowati (desk berprestasi/edisi minggu).

Piagam penghargaan juga diterima Drs Sri Mulyadi yang mewakili masa kerja 25-29 tahun (redaksi), Hj Arum Widiantari (pembukuan, 30-35 tahun), dan Rochani (satpam, di atas 35 tahun).

Adapun untuk agen berprestasi diraih Paiman Agecy. Juga diserahkan hadiah kepada para pemenang lomba tenis lapangan, tenis meja, catur, bulu tangkis, voli putra, dan voli putri. (Rukardi, Setiawan HK-58a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA