logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 NASIONAL
Line

Impiannya Kesampaian


SM/afp

Meski sudah diduga sebelumnya, puncak kisah asmara Pangeran Charles dan Camilla Parker Bowles tetaplah menjadi berita menarik. Pangeran dari Kerajaan Inggris ini sepanjang hidupnya menunggu dua hal: takhta dan cinta sejatinya.

Dengan diumumkannya rencana pernikahan yang selalu tertunda itu, satu dari dua impian Charles tercapai sudah. Charles dan Camilla akan mengucapkan janji nikah pada 8 April mendatang.

Namun, persoalan belum selesai. Dia masih harus berjuang untuk meraih simpati rakyatnya. Simpati rakyat Inggris pada pangeran telah memudar sejak bubarnya mahligai keluarga yang dijalin bersama mendiang Putri Diana.

Di mata rakyat, pangeran itu selalu terlihat kaku dan dungu. Orang-orang memandangnya dengan aneh ketika dia bercakap-cakap dengan tanaman peliharaannya. Gagasannya tentang seni dan arsitektur dianggap konyol.

Pangeran tidak akan pernah mengalami gemerlap bintang atau curahan cinta rakyatnya, sebagaimana dialami Diana.

Kendati tidak berhasil meraih cinta dari rakyatnya, Pangeran Charles di usianya yang paruh baya ini paling tidak disegani sebagai seorang pangeran yang serius dan memiliki semangat kerakyatan.

Sejak lahir, dia sudah ditakdirkan untuk naik takhta. Namun, sosok kepangerannya seolah padam oleh kemilau pesona Diana. Di samping Diana, Charles menyadari dirinya dianggap sebagai orang kuno.

Namun, Charles perlahan meraih kembali simpati publik semenjak meninggalnya Diana akibat kecelakaan mobil di Paris pada 1997.

Kekasihnya, Parker Bowles pelan-pelan mulai muncul di hadapan publik. Tujuannya tentu saja agar dia diterima rakyat Inggris.

Citra Charles pun ditata kembali. Dia kian sering ditampilkan sebagai sosok orang tua tunggal yang penuh perhatian kepada dua puteranya, Pangeran William dan Harry.

Ketika Ibunda Ratu meninggal 2002 dalam usia 101, Charles berhasil merebut simpati masyarakat. Dengan raut wajah yang tampak sangat berduka, dia menyampaikan ucapan belasungkawa yang menyentuh hati atas kematian neneknya itu.

Kegiatan amalnya, yang terfokus pada penciptaan lapangan kerja untuk kaum muda di daerah miskin, juga sangat membantu menaikkan citranya.

Rakyat Mendukung

Perceraianya dari Diana pada 1996 seakan-akan membuat peluangnya menjadi raja menipis. Para pengamat bahkan secara terbuka mempertanyakan apakah dia akan dinobatkan sebagai raja atau tidak.

Namun pertanyaan seperti itu tampaknya tak lagi mengusik benak rakyat Inggris. Sebuah survei menyatakan, 65 persen warga Inggris menyetujui keputusan Charles untuk menikahi Camilla.

Namun, menyangkut persoalan siapa raja berikutnya, 41 persen lebih menyukai Pangeran William untuk menjadi raja. Hanya 37 persen memilih Charles. Sebanyak 19 persen mengatakan Inggris seharusnya tidak memiliki raja setelah sang ratu turun takhta.

Publik Inggris tampaknya juga gelisah mengenai fakta jika Charles naik takhta sebagai raja. Sebab, raja atau ratu Inggris secara otomatis juga menjadi pimpinan tertinggi Gereja Anglikan Inggris.

Karena pangeran itu dan Parker Bowles pernah bercerai dalam perkawinan mereka sebelumnya, mereka akan dinikahkan secara sipil di luar gereja.(rtr-ben-52)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA