logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 MURIA
Line

Suyadi, 39 Tahun Mengabdi pada Hutan Bakau

  • Kalpataru Belum Berpihak

KAKEK berumur 64 tahun yang dikarunai enam anak dan delapan cucu ini masih lincah berjalan di pematang basah pada lahan pertambakan kampungnya, Dukuh Kaliuntu, Desa Pasar Banggi, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang. Dia hafal liku-liku areal hutan bakau/bakau (Rhizopora) yang membentang di pantai belakang rumahnya itu.

''Saya merintis hutan bakau ini sendirian pada 1966-1968. Banyak orang yang menganggap saya (melakukan pekerjaan) bentho (gila),'' ucapnya.

Pekerjaan "gila" itu dia lakukan setelah tambaknya sering mengalami gagal panen karena disapu gelombang laut.

Setidaknya dalam dua musim puluhan hektare tambak yang terdapat di desanya hancur diamuk gelombang, yakni saat musim angin timur (Juni-Agustus) serta musim angin barat (Desember-Februari). Sejurus dengan amuk ombak itu, daratan pantai juga mengalami abrasi.

Karena itu, tambak yang difungsikan sebagai ladang garam pada musim kemarau sering hanya (sebagaimana ungkapan dalam salah satu puisi KH Mustofa Bisri) hanya "mendapat asinnya saja". Sementara itu, saat tambak ditebari ikan bandeng hanya memperoleh amisnya belaka.

Merenungkan kenyataan pahit yang menimpa dia dan para tetangganya secara bertubi-tubi itu, seperti ada yang mendorong pikiran Suyadi untuk ''memagari'' bibir pantai dengan tanaman bakau.

''Setelah terlihat hasilnya, tambak saya selamat dari hantaman gelombang, warga di sini sadar dan mau mengikuti langkah saya,'' tuturnya. Suyadi memiliki tambak seluas 1 ha. Pada 20 Januari 1972, dia bersama 13 tetangga yang mulai melihat arti penting hutan bakau mendirikan kelompok tani nelayan Sidodadi Maju.

''Dengan hanya 13 anggota, kami terus menanam dan merawat hutan bakau secara swadaya,'' kenang dia yang baru pulang dari ibadah haji awal Februari ini.

Anggota kelompok tani itu kini telah berkembang menjadi 50 orang dengan total hutan bakau 42 hektare yang membentang sepanjang 3 km di garis pantai.

Mereka yang mengadakan pertemuan rutin tiap bulan sekali pada tanggal 20, masih setia berswadaya.

''Pertemuan antara lain diisi dengan arisan per anggota Rp 5.000 dan Rp 300 di antaranya dipotong untuk iuran,'' ujarnya.

Jual Bibit

Kesuksesannya menghutankan pantai dengan tanaman bakau itu, selain menyelamatkan areal tambak dan menjaga kelestarian ekosistem areal pasang surut, juga mengantarkan warga memperoleh penghasilan tambahan.

''Soalnya, mulai 1994 kelompok tani juga membuat dan melayani pesanan bibit bakau,'' tuturnya. Bibit merupakan semaian biji dari pohon yang telah masuk umur produktif.

''Yang jelas, kami pernah dapat pesanan 150.000 bibit dalam setahun,'' tandasnya. Saat ini, bibit yang berukuran tinggi 60 cm (umur 6-9 bulan) berkisar Rp 600/batang.

Pembibitan tersebut ditangani oleh ibu-ibu atau kaum perempuan. ''Jika bisa laku Rp 600/batang, setelah dipotong untuk biaya dan uang kas kelompok tani, ibu-ibu bisa mendapat bagian Rp 200/batang,'' ungkapnnya.

Warga yang telah merasakan manfaat langsung ataupun tak langsung keberadaan hutan bakau tersebut, pada akhirnya menyadari dan ikut membantu merawat kelestarian hutan itu. ''Ketika beberapa tahun lalu terjadi penjarahan di mana-mana, hutan ini juga nyaris dijarah untuk dijadikan tambak. Akan tetapi berkat kekompakan dan pengertian warga, penjarahan dapat digagalkan,'' paparnya.

Suyadi sering diundang untuk menceritakan kesuksesannya di mana-mana serta mendapat penghargaan dari berbagai pihak. Namun Kalpataru yang merupakan penghargaan tertinggi untuk pelestari alam dan lingkungan hidup di Indonesia, hingga kini belum berpihak kepadanya. (Prayitno-90j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA