| Sabtu, 12 Februari 2005 | MURIA |
Seniman Lokal Mulai ''Iri''KUDUS - Rupanya ada seniman lokal Kota Kretek yang mulai ''iri'' terhadap lomba desain tugu/monumen Kota Kretek yang tengah digelar PT Djarum. Ketua Sanggar Seni Patung Kudus Drs Bambang Dalyoko mengatakan, lomba tersebut adalah satu bentuk eksploitasi seniman ke wilayah bisnis. Pada sisi lain, katanya, semestinya tak berlebihan bila perusahaan rokok terbesar di Kudus itu lebih melibatkan secara serius seniman lokal berkelas yang selama ini masih dipandang oleh Djarum dengan sebelah mata. Pihaknya menjamin, kualitas produk seniman lokal tidak kalah dari produk seniman lainnya. ''Kami menilai, sayembara desain tugu Kota Kretek oleh Djarum dengan hadiah Rp 25 juta bagi pemenangnya adalah cara pandang Djarum terhadap nilai-nilai estetika seni yang masih sangat rendah,'' tandasnya. Ia mempertanyakan, apakah sebuah karya seni yang dihasilkan nanti oleh seniman yang disebut-sebut oleh Djarum berkelas nasional dan internasional itu cukup dihargai dengan Rp 25 juta. Sayembara tersebut, tambahnya, merupakan strategi bisnis yang didasarkan pada pertimbangan teori ekonomi belaka. Menurutnya, hak desain tugu Kota Kretek yang dinyatakan terpilih sebagai pemenang kelak tentu menjadi milik Djarum. Padahal, pengerjaannya tidak secara otomatis dilakukan oleh seniman pemenangnya. ''Apa ini namanya tidak eksploitasi seniman demi kepentingan bisnis?'' cetusnya. Mengenai peran juri yang disebut panitia dari Djarum berkelas nasional dan internasional, Bambang Dalyoko mengatakan, hasil penjurian yang mereka lakukan tidak mutlak dapat dijadikan sebagai standar kualitas atas hasil karya. ''Masalahnya, dewan juri yang dipercaya bukanlah seniman yang memahami betul tentang aspek-sapek yang terkandung dalam nilai-nilai kretek,'' paparnya. (yit-15n) |