| Sabtu, 12 Februari 2005 | MURIA |
Ratakan Pasir demi HidupMATAHARI sudah tergelincir ke ufuk barat. Teriknya masih terasa meski jam di dinding restoran International Food di sebelah timur Pantai Bandengan menunjukkan pukul 15.00. Kono (54), warga RT 6 RW 2, Dukuh Nyamplung, Desa Bandengan, Kecamatan Jepara, seolah tak mempedulikan sengatan terik matahari. Kulitnya yang sudah berkerut ia biarkan terpanggang. Hanya celana pendek dan topi di kepala yang ia kenakan. Sebuah alat kerja sederhana dari kayu ia gunakan untuk meratakan pasir putih yang menghampar di pantai. Sunset Village, restoran pinggir pantai milik investor asal Italia yang terletak di Jl Tirta Samudera No 190 adalah tempat kerjanya. ''Mungkin ini sudah menjadi titah saya, bekerja membersihkan dan merawat pantai,'' katanya. Dirasa belum indah jika hanya diratakan pasirnya, Kono menyaring pasir itu sedikit demi sedikit untuk dipisahkan dengan kerikil-kerikil kecil yang tercampur. Pekerjaan itu ia lakukan sendiri di tengah-tengah keramaian wisatawan mancanegara yang setiap siang hingga matahari terbenam berjemur di tempat itu. Laki-laki yang mengaku lihai memanjat pohon kelapa itu meratakan pasir pantai seluas kira-kira 1.000 m2 dua kali sehari, pagi dan sore hari, bahkan bisa lebih. Jika dirasa tatanan pasir tak lagi sedap dipandang, ia langsung bangkit meratakannya kembali. ''Jangan sampai pengunjung merasa tidak nyaman saat berjemur,'' katanya. Lima tahun sudah ia bekerja di tempat itu untuk membiayai dua anak kembarnya yang masih duduk di kelas II SD. Sebelum bekerja di tempat itu, Kono sudah menjadi ''penguasa'' daerah tersebut. Menurut penuturan Samto (45), tetangganya yang juga bekerja sebagai petugas palang pintu masuk restoran pantai itu, Kono adalah nelayan tangguh dan terampil. Masa mudanya ia habiskan untuk menyisir pantai, mencari ikan-ikan kecil dengan jaring segitiga yang ia namakan jari. ''Dibandingkan rekan-rekannya, perolehan ikan Kono pasti lebih banyak. Padahal mereka berangkat dan pulang bersamaan. Entah bagaimana caranya. Sepertinya ia menguasai betul medan pantai,'' tutur Samto. Setelah wilayah Pantai Bandengan diserbu investor, Kono-lah orang yang dipercaya salah satu investor asal Italia, pemilik Sunset Village yang saat ini paling eksis, untuk memelihara keindahan dan kenyamanan suasana pantai. Dia pula yang dipasrahi masalah keamanan. Maklum, sebelumnya di tempat ia bekerja dan beberapa lokasi di pantai itu banyak pelancong yang kurang memperhatikan etika. ''Pemabok menjadi pemandangan sehari-hari di pantai ini sehingga sempat mengganggu warga setempat,'' ujar Samto. Kono, lanjut Samto, punya ketegasan terhadap praktik-praktik seperti itu. Tak hanya itu, sepeda motor yang keluar masuk pantai dengan bebasnya dan membahayakan anak-anak yang sedang bermain juga menjadi kritikannya. ''Di daerah yang saya bersihkan ini, motor tidak bisa masuk ke pasir putih, sudah saya kasih palang dengan bambu,'' kata Kono Khusus untuk pasir putih di pantai, ia menyayangkan beberapa orang yang kadang lagaknya akan memancing ikan, tapi diam-diam mengambil pasir untuk dibawa pulang. ''Sering saya harus adu mulut dengan mereka karena sudah diingatkan berulang-ulang masih saja begitu,'' ujarnya. Kerja Kono cukup berat. Siang sebagai tukang bersih-bersih, malam masih harus menjaga keamanan. Ia enggan mengatakan bayaran yang diterima dari pengelola. ''Ya, pokoknya cukup untuk makan saya dan keluarga,'' katanya. Jika dicermati, lokasi yang dibersihkan Kono itu jauh lebih indah dan nyaman dibanding dengan lokasi lain di pantai itu. Misi Kono hanya satu, selain bekerja, ia ingin membuat para pengunjung pantai merasa ketagihan. ''Tata krama dengan pengunjung harus dijaga, tata krama dengan lingkungan jangan lupa,'' katanya menutup pembicaraan. (Muhammadun Sanomae-15n) |