| Sabtu, 12 Februari 2005 | MURIA |
Sedekah Bumi, Wujud Syukur pada Sang Pencipta
GELEGAR guntur terdengar sayup-sayup di ujung Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus saat puluhan lelaki beraut teduh, duduk bersimpuh di balai desa senilai Rp 400 juta dan konon termegah di Kota Kretek, Rabu (9/2) malam lalu. Sementara itu, di antara gemuruh suara alam tadi, alunan ayat-ayat illahi terdengar menyeruak di antara pertanda kedatangan musim hujan yang memekakkan telinga itu. Puluhan lelaki bersarung dan berkopiah masih saja mendengungkan doa-doa pengharapan kepada Sang Pencipta hingga doa awal tahun sebagai puncak prosesi. Kemudian, satu per satu dari mereka memperoleh sebuah berkat yang dari tadi memang dibiarkan berjajar memanjang tanpa disentuh sedikit pun. Malam itu, 2.000 nasi berkat dari hasil menyembelih dua ekor kerbau yang dilakukan pagi harinya, dibagikan kepada sekalian warga desa sebagai ungkapan rasa syukur atas panen pada masa tanam (MT) pertama lalu. Iringan doa yang diperdengarkan, dimaksudkan sebagai suatu harapan akan keberhasilan panen pada benih yang disemai sekarang ini. Menurut penuturan Kepala Desa (Kades) Undaan Tengah, Akrab, kegiatan yang dikenal sebagai Sedekah Bumi sekaligus perayaan tahun baru Islam tersebut sudah tiga tahun terakhir ini diselenggarakan warganya. Hanya, pada dua penyelenggaraan terakhir memang dilakukan secara besar-besaran. Untuk Sedekah Bumi kali ini, ujar dia, telah dihabiskan dana Rp 30 juta. ''Dana sebesar itu memang hasil dari swadaya warga,'' tandasnya. Tidak Memaksakan Sebenarnya, ungkap dia, warga desanya yang berdiam di 15 RT dan 3 RW itu hanya berjumlah 1.203 keluarga. Namun, panitia Sedekah Bumi di Desa Undaan Tengah juga memberikannya kepada sejumlah warga lain yang membutuhkan. ''Jadi, sekali lagi kami tidak memaksakan prosesi ini. Sebab, hanya seperti inilah kemampuan warga kami,'' ucapnya. Sepertinya, perkataan Kades itu bukan suatu hal yang telalu mengada-ada bagi desa yang terbilang kaya ini. Bagaimana tidak? Untuk MT pertama lalu, dari 537,8 hektare lahan padi, setiap hektare menghasilkan tujuh ton dari hasil sekitar enam ton yang biasa didapat. Belum lagi, pendapatan asli desa yang didapat sudah jelas tidak bisa dibilang sedikit. Pada 2004, telah diperoleh dana Rp 283 juta bagi kas desa. Untuk 2005 nanti dipatok Rp 328 juta. Namun Akrab kembali menegaskan, dana kas desa tersebut dikembalikan dalam bentuk sarana prasarana fisik di desanya. Dia menuturkan, untuk 2004 warga telah dapat membangun sebuah gadung madrasah ibtidaiah bernilai ratusan juta rupiah. Belum lagi, enam dari 15 gang, kondisi jalannya telah beraspal mulus. Sisanya, sembilan gang, hingga kini masih diupayakan untuk segera diaspal hingga tak kalah dengan jalan-jalan di depan pendapa kabupaten. ''Kami juga berencana membangun sebuah aula pertemuan di belakang balai desa. Mungkin akan menghabiskan dana Rp 600 juta,'' ucapnya pelan. (Anton Wahyu Hartono-15j) |