logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 MURIA
Line

Pasar Wedarijaksa Sarang Penjudi

PATI- Pasar Kecamatan Wedarijaksa, Pati, setiap hari menjadi sarang penjudi. Selain itu, lingkungan dalam pasar tersebut juga kumuh. Jalan antarlos becek tak terawat, dan banyak los yang dibiarkan kosong. Kondisi seperti itu membuat para penjudi bebas memanfaatkan tempat tersebut, mulai pagi hingga sore hari.

Dari pengamatan di lokasi, kebanyakan mereka bertaruh dengan menggunakan kartu remi. Besarnya uang taruhan bervariasi, tetapi yang jelas mulai dari Rp 5.000 hingga tergantung pada berapa yang mereka sepakati.

Mereka cukup menggunakan alas kertas koran bekas dan berpasangan dengan lawan masing-masing. Meskipun mengambil tempat terbuka di los pasar, selama ini mereka merasa aman. Namun setiap ada orang tak dikenal berada di sekitar tempat tersebut, mereka selalu curiga.

Pemandangan seperti itu bukanlah sesuatu yang asing di dalam pasar tersebut, karena di setiap los yang kosong itu terdapat tiga sampai lima pasang pemain dengan menggunakan kartu remi. Kadang-kadang pengunjung pasar juga disuguhi permainan judi dadu kopyok.

Dengan demikian, banyaknya los pasar yang menganggur, besar kemungkinan karena pada awalnya para bakul atau pengunjung yang hendak berbelanja merasa sungkan. Sebab, setiap hari selalu ada orang bermain judi, sehingga para bakul lebih senang memilih untuk pindah berjualan di tempat lain.

Tutup

Kepala pasar yang bersangkutan, Rustam, ketika ditanya sehubungan hal tersebut tidak mengelak. Namun, pihaknya tak bisa berbuat apa-apa. Sebab sejak pindah tugas di pasar itu sekitar satu tahun lalu, orang bermain judi di los pasar tersebut sudah ada.

Ketika ditanya apakah orang yang bermain judi di los pasar tersebut juga dipungut retribusi, dia menegaskan hal itu tidak mungkin dilakukan. Kalau los banyak yang kosong memang benar, hanya pihaknya berupaya agar los-los itu bisa digunakan berjualan para bakul.

Karena itu, kepada warga masyarakat yang membutuhkan selalu dilayani dengan tarif penggunaan sesuai dengan ketentuan. Bagi yang membutuhkan untuk berjualan, dengan membayar sistem harian. Untuk satu meter persegi kios tarif sewa Rp 100, los Rp 75, dan pelataran Rp 50.

Tetapi bila sewa sistem bulanan, untuk kios Rp 2.500/m2, los Rp 1.875, dan pelataran Rp 1.250. Tarif sewa tersebut di luar retribusi pasar, di mana dia mendapat target wajib setor ke kas daerah pada 2004 Rp 22 juta dan 2005 Rp 25 juta.

Target setor 2004 bisa dipenuhi, bahkan Rp 24 juta. Banyaknya los yang ada enam buah, ditambah satu los besar serta 10 buah kios. Untuk mengatasi kondisi pasar agar kembali ramai pengunjung dan banyak bakul, dia pernah membuat usulan agar dibuka trayek angkutan pedesaan mulai dari Juwana-Wedarijaksa-Tlogowungu lewat Desa Suwaduk.

Alasannya, jalan menuju desa itu kebetulan lewat sebelah utara pasar. ''Warga Suwaduk dan sekitarnya bila hendak berbelanja atau bakul yang akan berjualan, bisa naik angkutan pedesaan dan turun di sekitar pasar,'' ujarnya.(ad-15s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA