| Sabtu, 12 Februari 2005 | MURIA |
Jalan ke Rahtawu Terlalu SempitKUDUS - Wisata religius berupa ziarah di sejumlah petilasan di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus sampai saat ini masih mendapat animo yang baik dari masyarakat. Hal itu ternyata tidak saja dilakukan para peziarah pada saat hari-hari besar keagamaan, seperti prosesi 1 Sura, tetapi juga pada waktu-waktu di luar itu. Menurut keterangan Sekretaris Desa Rahtawu, Sukono, kepada Suara Merdeka, Rabu (9/2) lalu, peningkatan jumlah pengunjung ke wilayah di lereng Pegunungan Muria tersebut secara otomatis akan menambah pemasukan bagi kas desa. Pasalnya, para peziarah pada umumnya membutuhkan sejumlah logistik untuk keperluan pendakian ke puncak Sangalikur yang beberapa di antaranya dibeli dari sejumlah warung di desa itu. ''Warga juga dapat membuka usaha baru untuk menyediakan sejumlah barang keperluan para peziarah,'' ungkapnya. Belum lagi, lanjut dia, pada saat puncak kunjungan, misalnya pada 1 Sura, pihaknya juga diuntungkan dengan penarikan retribusi untuk setiap pengunjung yang akan mendaki gunung itu. Untuk tahun ini, retribusi masuk tersebut ditarik pada 6-12 Februari 2004. ''Besarnya mencapai Rp 1.000 per kepala,'' ujarnya. Untuk 2004 saja, dia mengaku kas desa mendapat keuntungan bersih dari jenis pemasukan tersebut yang nominalnya Rp 1.500.000 dengan jumlah 5.000 pengunjung. Sementara itu untuk tahun ini, pihaknya mengaku masih akan terus menghitung besaran pendapatan yang diterima mengingat pengunjung diperkirakan masih akan datang hingga Minggu (13/2). Hanya, upaya untuk meningkatkan jumlah pengunjung tersebut akan semakin optimal jika sarana jalan ke lokasi juga dibenahi. Ruas jalan dari pertigaan Menawan hingga Balai Desa Rahtawu sepanjang enam kilometer, kata dia, dianggap terlalu sempit karena lebarnya hanya sekitar enam meter untuk dilewati mobil pengangkut penumpang berukuran besar seperti bus. ''Mobil akan kesulitan saat bersimpangan. Belum lagi, kondisi pada beberapa kawasan terlihat sudah mulai rusak,'' ungkapnya. Soal sempitnya jalan, juga diakui salah seorang warga, Mursiyo, yang setiap hari selalu menggunakan jalan tersebut untuk mengangkut barang dagangannya. Lebar jalan yang tidak memadai, terkadang menyebabkan bagian mobil yang ditumpanginya mengenai tebing di sisi jalan. (H8-15j) |