logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Februari 2005 KEDU & DIY
Line

Ikut Ruwatan untuk Hilangkan Energi Negatif

Malam peringatan 1 Muharam atau Rabu malam lalu berlangsung di sejumlah tempat dengan agenda bermacam-macam. Di Tambak Bayan, ratusan orang mengikuti ritual ruwatan dan kirab pusaka yang digelar Paguyuban Tri Tunggal, sedangkan di Keraton Yogyakarta, masyarakat melakukan tapa bisu dengan mengelilingi benteng keraton.

Ritual ruwatan di Paguyuban Tri Tunggal dimulai pukul 20.00. Mereka mengikuti ruwatan untuk menghilangkan energi negatif yang ada dalam diri. Ratusan orang tidur terlentang ditutupi dengan kain putih seperti layaknya jenazah.

Sebelumnya, anggota Paguyuban memotong rambut kepalanya, kuku, dan secuil gigi peserta ruwatan. Benda-benda tersebut nantinya akan dilarung agar si empunya yang terdiri atas anak-anak, remaja, bahkan orang tua terbebas dari belenggu persoalan yang selama ini mereka alami.

Salah seorang peserta ruwat yang keberatan disebutkan namanya mengungkapkan keinginannya mengikuti ritual tersebut agar mudah mencari rezeki. Selama ini, dia merasakan beban hidupnya sangat berat dan susah mendapatkan rezeki. Ada saja halangan ketika dia membuka usaha.

Semula dia tidak mempercayai hal semacam itu tetapi setelah melihat dan mendengar cerita teman, dia kemudian mengikuti kegiatan tersebut. Dia berharap setelah ini ada harapan baru dengan catatan selalu mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Setelah semua prosesi pengambilan rambut, kuku dan gigi selesai, peserta diminta tidur terlentang dan seluruh tubuhnya ditutup kain berwarna putih. Selama satu jam terlentang terdengar beberapa orang mendengkur. Bisa jadi mereka tertidur selama ritual ruwatan.

Kirab

Usai ruwatan, ratusan orang tersebut termasuk masyarakat sekitar mengikuti proses kirab pusaka yang bertajuk ''Kirab Agung Ruwat Pathok Negoro''. Menurut Sat Guru Paguyuban Tri Tunggal Dr Sapto Raharjo SIP ruwat pathok negoro menyuguhkan budaya pembebasan sebagai identitas kontrol sosial sebagai sarana transendensi diri dan petunjuk bagi segenap alam mikro dan makro.

''Ruwat ini merupakan upaya untuk membangun persaudaraan secara universal tanpa membeda-bedakan golongan, membangun peradaban, membebaskan kaum yang tertindas dan membangun identitas sosial demi menepis disintegrasi yang berwujud aksi teror dan kekerasan,'' tutur Sapto.

Ratusan orang mengikuti ruwat sambil membawa pusaka. Kirab dimulai pukul 22.00 dari Pendapa Paguyuban Tri Tunggal, Tambak Bayan, melintasi Jalan Laksda Adi Sucipto, menuju Perempatan UIN Sunan Kalijaga, Demangan, Tugu, Kota Baru dan Gramedia. Peserta kirab terdiri atas berbagai umat beragama, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha.

Sementara itu, peringatan 1 Muharam juga dilakukan masyarakat di sekitar Keraton Yogyakarta. Ribuan orang mengeliling tembok benteng keraton. Ritual tersebut dipimpin oleh kerabat keraton yakni BRAy Murdo Kusumo. Kegiatan itu dibagi dua, pukul 20.00 dan 24.00.

Di Pantai Parangtritis yang biasanya ramai pengunjung pada malam 1 Muharam atau Rabu malam lalu tampak sepi. Hanya terlihat segelintir orang berada dia sana untuk melewatkan malam itu. Menurut penuturan penduduk setempat, tahun ini benar-benar menyedihkan karena para pedagang, pemilik hotel gigit jari.

''Mungkin karena ada informasi bakal terjadi badai di sini sehingga tidak ada yang berani datang,'' ujar Suroyo, penduduk setempat yang juga Tim SAR Pantai Parangtritis. (Agung PW-76m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA