| Sabtu, 12 Februari 2005 | INTERNASIONAL |
Filipina Selatan Masih Rusuh, 90 TewasMANILA - Angkatan Darat Filipina mengirim lebih banyak pasukan ke daerah terpencil di Pulau Jolo (Filipina selatan), kemarin. Penambahan pasukan tersebut dilakukan pada hari kelima pertempuran dengan dua kelompok gerilyawan. Pada saat yang sama, seruan-seruan gencatan senjata yang dikumandangkan para pemimpin setempat diabaikan. Militer mengatakan hampir 30 serdadu dan sekitar 60 gerilyawan tewas dalam bentrokan sejak Senin lalu. Sedikitnya 7.000 penduduk desa mengungsi ke Kota Jolo, untuk menyelamatkan diri dari pertempuran tersebut. Letjen Alberto Braganza, komandan paling senior di Filipina selatan, mengatakan masalah gencatan senjata berada di luar wewenangnya. ''Saya punya misi untuk menyelesaikan misi lapangan ini,'' katanya. ''Saya akan menyelesaikan apa yang dimulai para gerilyawan.'' Hampir 4.000 serdadu, termasuk ratusan pasukan tambahan, telah bertempur melawan sekitar 800 militan kelompok Abu Sayyaf yang berkaitan dengan Al Qaedah dan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) sejak aksi penyerbuan Senin lalu. Setelah MNLF menandatangani kesepakatan damai yang diperantarai Indonesia pada 1996, sebagian anggota yang tidak puas pada kepemimpinan Nur Misuari membentuk aliansi dengan Abu Sayyaf. Paling Berdarah Bentrokan di Jolo merupakan insiden paling berdarah sejak 2001, ketika 500 orang tewas dalam upaya pembangkangan yang gagal oleh Misuari. Namun mereka kemungkinan kecil dapat memengaruhi perundingan perdamaian dengan Front Pembebasan Muslim Moro (MILF) yang lebih besar. MILF memisahkan diri dari MNLF pada 1978. MILF, yang membangun basis perlawanan di Pulau Mindanao, mengatakan tetap komit pada proses perdamaian tersebut. Padahal pekan ini, seorang pemimpin Abu Sayyaf menyerukan agar mereka bergabung kembali dalam perjuangan bersenjata untuk mendirikan negara Islam di Filipina selatan. Jesus Dureza, asisten presiden untuk Mindanao yang dikirim ke Jolo, mengatakan misinya terbatas pada mengawasi upaya bantuan untuk warga sipil yang terpaksa mengungsi. Dia mengatakan, permintaan gerilyawan agar Misuari dipindahkan dari kamp polisi di selatan Manila ke tahanan di Jolo hanya dapat diurus oleh pengadilan. Para pemimpin setempat, yang menyerukan pembakaran sebagian besar Kota Jolo saat kampanye pemisahan diri meningkat pada 1970-an, mengatakan mereka khawatir pertempuran bakal semakin sengit. ''Kami tidak ingin mengulang insiden Februari 1974,'' kata Ulka Ulama, seorang pemimpin setempat.(rtr-ben-46) |