| Sabtu, 12 Februari 2005 | INTERNASIONAL |
Korut Eksekusi 70 PengungsiSEOUL - Korea Utara telah mengeksekusi sekitar 70 pengungsi yang tertangkap di China dan dikirim pulang ke Pyongyang. Demikian dilaporkan Komite untuk Membantu Pengungsi Korut, sebuah kelompok yang berbasis di Seoul, Jumat kemarin.Ketika dunia masih tersentak dengan program senjata nuklir Korut, laporan tentang eksekusi pengungsi itu makin mengejutkan banyak negara atas sikap keras negara itu. Mengutip beberapa informan di China, komite itu mengatakan sekitar delapan atau sembilan dari 70 pengungsi dihukum mati di depan khalayak. Sebab, mereka mendorong pengungsi lain untuk menyelinap ke China. Belum ada konfirmasi resmi mengenai laporan tersebut. Namun, kelompok Korsel itu selama ini dipandang sebagai sumber informasi terpercaya mengenai Korut, negara yang suka menutup diri. ''Korut bertujuan menutup total jalur penyusupan ke negara lain, khususnya bagi para pengungsi yang mencoba lari untuk kali kedua atau ketiga,'' kata Kim Bum-soo, wakil komite tersebut. China adalah satu-satunya sekutu yang tersisa bagi Korut. Beijing sering kali mengirim pulang warga Korut, yang dianggapnya sebagai imigran ilegal dan bukan kaum pengungsi. Bersembunyi Sebanyak 300.000 pengungsi Korut diduga bersembunyi di wilayah China. Seoul berperan di balik layar untuk menekan Beijing agar mengizinkan kaum pengungsi itu mencapai Korsel. Kim mengatakan jumlah warga Korut yang menyeberang ke China merosot secara dramatis akibat pemberlakuan hukuman mati tersebut. Seorang pejabat Korsel yang memantau Korut mengatakan tak tahu soal eksekusi seperti itu. Dia menambahkan, tak ada kelompok pembela HAM lainnya di Korut yang mengeluarkan laporan sejenis. Komite tersebut selama ini bersikap kritis kepada Pemerintah Korsel. Pasalnya, Seoul dianggap terlalu toleran terhadap Pyongyang. Yoon Dae-il, eks agen rahasia Korut yang membelot, pernah memberi kesaksian dalam sebuah buku mengenai nasib pengungsi. Dia mengatakan, para pengungsi yang dipulangkan kembali selalu ditanyai oleh Badan Keamanan Nasional Korut mengenai motivasi mereka melarikan diri. Sebagian besar yang diadili karena berupaya mencari suaka di Korsel telah dieksekusi. Didesak Berunding Sementara itu ketakutan, kemarahan, dan keraguan merebak di berbagai negara di Asia, kemarin, akibat sikap keras Korut berkaitan dengan program senjata nuklirnya. Media massa di Asia terfokus pada pernyataan para pemimpin negara yang tersentak oleh pengumuman Korut bahwa negara itu punya senjata nuklir. Sebuah koran Korsel menyebut pengumuman Korut itu ''pilihan kemungkinan terburuk''. Harian ekonomi utama di Jepang menyebut langkah Korut itu tindakan yang gegabah. Para pemimpin di Asia dan Barat bereaksi sama. Mereka menyerukan agar negara komunis miskin tersebut kembali ke meja perundingan. Diserukan pula agar Korut memulai kembali pembicaraan enam negara mengenai program senjata nuklirnya. ''Pernyataan terakhir Korut mengenai ambisi nuklirnya dapat dipandang sebagai upaya untuk menarik perhatian lima negara lain,'' tulis koran Jepang Yomiuri. Kelima negara yang dimaksud adalah Korsel, Jepang, China, AS, dan Rusia, yang merupakan mitra-mitra Pyongyang dalam pembicaraan enam negara untuk mengakhiri program senjata nuklir Korut. Sebagai imbalannya, Korut akan mendapat bantuan dan jaminan keamanan. Pyongyang tidak mau ikut pada putaran keempat perundingan tersebut, yang dijadwalkan diadakan September tahun lalu. ''Pyongyang bersikukuh pada strategi yang terlalu berisiko,'' tambah Yomiuri dalam tajuknya. Menurut koran itu, Korut menggunakan isu senjata nuklir sebagai alat untuk mendongkrak posisi tawarnya. PM Jepang Junichiro Koizumi merupakan salah satu pemimpin yang mendesak Pyongyang untuk tidak semakin mengucilkan diri dengan mundur dari perundingan. Jepang adalah negara yang masuk dalam jangkauan rudal Korut, yang bisa dilengkapi hulu ledak nuklir. ''Kami akan membujuk Korut dengan menjamin kepentingannya bakal dilayani dengan baik, apabila ia menghentikan program nuklirnya,'' kata Koizumi. ''Korut harus bangun dari hipnotis yang membiusnya. Ia berkhayal bisa memenangi sesuatu jika melakukan konfrontasi total terhadap komunitas internasional,'' tulis harian Chosun Ilbo.(rtr-ben-52) |