SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Jumat, 11 Februari 2005

-- Hari ini genap 55 tahun usia koran kita, Suara Merdeka. Menengok kembali ke belakang, apa sebenarnya yang menjadi cita-cita para pendiri dan pengelola harian yang terbit sejak 11 Februari 1950 ini. Tertulis dalam sebuah piagam, cita-cita Suara Merdeka untuk menjadikan sumber kebutuhan informasi demi kemajuan bangsa dan memberi nikmat kepada pengasuhnya serta manfaat bagi masyarakat.

-- Mulai kemarin kita memasuki kembali bulan Sura. Sebuah bulan yang oleh masyarakat Jawa disebut sebagai bulan penuh pantangan. Dalam kepercayaan Jawa lama, selama berada dalam Sura masyarakat tidak diperbolehkan melakukan kegiatan-kegiatan tertentu karena mengandung risiko buruk. Seperti tidak boleh punya hajat mantu, menyunatkan, mendirikan rumah, dan aktivitas lainnya.

NAMA Suara Merdeka yang saya kenal ketika masih kelas 3 SD sekitar 35 tahun yang lalu mempunyai makna yang dalam. Tetenger yang diberikan oleh pendiri surat kabar ini, menurut pendapat saya, memiliki muatan filosofis yang diharapkan dapat menjadi panduan bagi para jurnalisnya untuk selalu menyuarakan kepentingan masyarakat yang bebas dari tekanan ataupun penindasan berbagai pihak, terutama mengartikulasikan kepentingan kelompok masyarakat yang terpinggirkan oleh keadaan sosial, politik dan ekonomi yang timpang.

"BANYAK grup-grup kecil yang mampu mengalahkan grup besar." Demikian disebutkan dalam Alquran saat menggambarkan kemenangan tentara Jalut atas kelompok Talut meski disokong Bani Israil dan jumlahnya mencapai 80 ribu orang. Apalah artinya kuantitas jika berupa penjumlahan angka sehingga usia tua menjadi tak berarti jika hanya berupa perjalanan menyusuri lorong waktu tanpa makna. Kejahatan yang terorganisir ala mafia seringkali mengalahkan kebenaran yang acak-acakan.

Temanggung puluhan tahun lalu pernah terkenal se-Indonesia karena berhasil meraih predikat Kota Terbersih yang waktu itu di pimpin Bupati H Maschun Sofwan SH (mantan hakim). Kini kembali Temanggung tersohor karena diterjang gelombang demo elemen masyarakat menuntut Bupati mundur.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA