| Jumat, 11 Februari 2005 | MURIA |
Penyadaran Lingkungan Harus Sejak DiniKUDUS - Upaya menciptakan perilaku masyarakat yang berpihak kepada lingkungan hendaknya dimulai dari usia dini. Salah satunya adalah dengan pemberian pendidikan yang terintregrasi dengan persoalan penyadaran kelestarian lingkungan baik sejak taman bermain (playgroup), SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. ''Kurikulum yang terintegrasi dengan pendidikan lingkungan akan memudahkan pemahaman anak pada persoalan kelestarian ekologi,'' ujar Hendy Hendro HS, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus (UMK). Lebih lanjut dia mengungkapkan, anak ataupun remaja dianggap memiliki posisi strategis dalam persoalan lingkungan. Hal tersebut dapat dipahami, mengingat pada 10 atau 15 tahun ke depan mereka merupakan penentu kebijakan dalam kehidupannya. Diharapkan dengan pendidikan yang terintegrasi dengan persoalan penyehatan dan kelestarian lingkungan tersebut, remaja pada saatnya nanti mempunyai empati pada hal-hal tersebut. Kondisi tersebut tentunya akan menciptakan budaya lingkungan di tengah kehidupan masyarakat. Budaya tersebut, ujar Hendy, dapat diartikan sebagai suatu semangat untuk selalu mendasarkan segala sesuatunya pada kelestarian lingkungan di sekitarnya. Untuk itu, pihaknya bekerja sama dengan PT Djarum Kudus dan Suara Merdeka pada 12-13 Februari 2004 mengadakan pendidikan praktis dan kemah bakti mitra lingkungan yang diikuti oleh siswa SMA, SMK, dan MA se-Kudus. Sejauh ini, telah tercatat 200 siswa dan 40 guru pembimbingnya akan mengikuti kegiatan tersebut. Pendidikan lingkungan dengan prioritas pada praktik aplikasi di lapangan tersebut, menurut rencana dengan mendatangi sejumlah objek. Objek yang dituju tersebut, ujarnya, meliputi tempat pembibitan PT Jarum Kudus dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di GOR Kaliputu. Sementara itu, lokasi kemah bakti akan dilakukan di Desa Ternadi, Kecamatan Dawe. (H8-90j) |