logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 11 Februari 2005 KEDU & DIY
Line

Sebuah Jatuh di Yogyakarta

Pesawat Latih Bravo Diistirahatkan

YOGYAKARTA - Setelah sebuah pesawat jatuh di Yogyakarta, Selasa (8/2) lalu, pesawat-pesawat latih Bravo lainnya untuk sementara akan diistirahatkan. KSAU Marsekal Chappy Hakim menegaskan hal itu ketika meninjau lokasi kecelakaan, Rabu (9/2) lalu.

Pesawat latih Bravo milik TNI AU, A 202 Latih Mula (LM) 2035 mengalami kecelakaan di dekat Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, Selasa (8/2) siang pukul 14.30. Tepatnya di Desa Juangin, Grogolsari, Purwomartani, Sleman. Pesawat jatuh di permukiman penduduk, dan menimpa rumah milik Apriyanto.

Kecelakaan tersebut menelan korban dua penerbang TNI, yakni Mayor (Pnb) Wahyu Widodo SIP dan Mayor (Pnb) Muh Mukhson. Salah seorang di antaranya, Wahyu Widodo yang meninggal di tempat kejadian, sedangkan Mukhson saat ini dirawat di RSUP Dr Sardjito, dan kondisinya sudah mulai membaik.

''Untuk sementara, semua pesawat latih Bravo ini akan diistirahatkan sampai penyelidikannya tuntas,'' tandas Chappy.

Dia mengungkapkan secara keseluruhan semua pesawat latih akan ditinjau ulang penggunaannya, dan beberapa yang bisa terbang tentu saja akan diterbangkan setelah memenuhi persyaratan-persyaratan yang sangat ketat. Semua jenis pesawat milik TNI AU yang layak terbang sudah memenuhi persyaratan.

Mengenai berapa lama pesawat latih tersebut akan diistirahatkan, KSAU belum bisa memberi kepastian. Yang jelas, semuanya akan menjalani pemeriksaan secara teliti.

Baik

''Semua pesawat latih sebenarnya dalam kondisi yang baik dan prima, juga telah memenuhi syarat digunakan sebagai pesawat latih,'' jelas dia usai menemui pemilik rumah Apriyanto.

Cheppy mengungkapkan, saat ini TNI AU memiliki pesawat Bravo sebanyak 35 dan yang terbang ada 22. Rencananya, TNI akan menambah jumlah pesawat latih dengan jenis KT 1. Saat ini sudah ada tujuh dan kemungkinan akan ditambah menjadi 14 hingga 18 pesawat.

Saksi mata di lokasi kejadian yang tak lain adalah pemilik rumah Apriyanto mengatakan, saat kejadian dia baru saja berada di rumah tersebut. Lima menit setelah keluar rumah, terdengar bunyi mesin pesawat dan tiba-tiba suara itu hilang. Tak lama kemudian terdengar seperti benda keras jatuh, dan ada yang mengatakan ban mobil meletus.

Penduduk setempat berhamburan keluar dan mendapati pesawat kecil di atap rumah Apriyanto. Mereka beramai-ramai melakukan pertolongan. Dua awak pesawat segera dikeluarkan. Pada waktu itu masih ada tanda-tanda kehidupan, namun tak berapa lama kemudian, Mayor (Pnb) Wahyu Widodo SIP diam tak bergerak. Masyarakat segera membawa kedua korban ke RS TNI AU.

Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Adisucipto Mayor (Sus) Drs Muh Agus Suhadi MSi menjelaskan, tak berapa lama setelah jatuh, Wahyu Widodo meninggal dunia sedangkan Mukhson dalam perawatan intensif di RS Dr Sardjito Yogyakarta.

Korban meninggal kemudian disemayamkan di Skuadron 101 Adi Sucipto. KSAU Marsekal Chappy Hakim melepas jenazah dari Yogyakarta menuju rumahnya di Banjarnegara.

Sementara itu, pemilik rumah yang tertimpa pesawat Apriyanto mengungkapkan KSAU menyatakan permintaan maaf dan akan mengganti semua kerusakan. Bahkan sehari setelah kejadian, pihak TNI AU langsung mendatangkan tukang dan bahan material. Proses pembangunan kembali rumah tersebut berlangsung saat itu juga.

''Saya tidak tahu jumlah kerugiannya tapi yang jelas TNI sudah mendatangkan tukang dan material. Hari ini (Rabu, 9/2) langsung dikerjakan''. (D19-76m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA