BAGIAN KEDUA

22

HARI berikutnya, Abilawa datang lagi ke Kemantran, Kramat, bermaksud menemui Tjioe Wie Tjiat. Ia pergi lebih pagi. Sendiri. Tidak dengan jip tua Yustina yang selalu meraung serak setiap kali pedal gasnya diinjak. Abilawa naik becak. Memang, Tegal-Kramat bukan jarak yang dekat. Tapi, kata Danur, cara serupa sering dilakukan Tjioe Wie Tjiat.

Abilawa tidak langsung ke rumah Pak Wie. Setelah menikung di pertigaan terakhir, ia minta becak berhenti. Menyaksikan keramaian pasar, nalurinya tergetar. Layaknya seorang turis, ia terpesona oleh pemandangan eksotis. Menyesal ia tak membawa kamera. Pasar itu benar-benar hidup, menggeliat, jauh lebih memikat dibanding lukisan pasar yang pernah ia lihat.

Seperti anak-anak yang kepalanya penuh rasa ingin tahu, Abilawa pun memasuki los-los riuh itu. Seketika pancainderanya diringkus beragam rupa dan aroma. Sesak dan sengak. Ia menelusup ke lorong-lorong yang hiruk, tak hirau pada suara-suara yang membujuk. Lantainya berlumpur. Bebauan menghambur dari los ikan dan sayur-mayur. Dari lapak-lapak lapuk tempat ikan-ikan busuk, juga dari bakul-bakul petai dan jengkol, karung bawang dan keranjang daun kol, air kelapa yang tumpah, labu yang dibelah. Abilawa mau muntah. Tapi ia terus melangkah. Lalu dilihatnya gumpalan-gumpalan daging merah bergelantungan, meneteskan darah segar ke onggokan jeroan (jantung, ginjal, limpa, dan usus yang terputus-putus), sayatan belulang, dan keratan-keratan tulang. Amis dan anyir. Abilawa menyingkir. Hanya beberapa langkah, ia lihat hamparan kue-kue basah. Getuk, tiwul, wajik, klepon, kenyol, ketan juruh, ketan srundeng, lupis, jenang cenil, bubur sumsum, tahu aci, dan entah apa lagi. Aromanya sedikit sedap. Tapi, di sana, lalat-latat terbang dan hinggap.

Busyet! Aku tertipu. Di mana-mana bau kematian. Orang-orang ini bertahan hidup dengan berjual-beli kematian. Yustina perlu tahu. Jika ia bilang penulis adalah pembohong, ia keliru! Pelukis lebih palsu. Pelukis tak pernah mengungkap kebenaran. Mereka hanya terpedaya oleh rupa, kulit jangat, permukaan yang dangkal; tanpa bisa menyatakan jiwa yang sekarat disergap ajal.

Kalian kira kalimat-kalimat itu benar-benar diucapkan Abilawa? Tidak. Abilawa cukup lihai menyembunyikan pikiran yang tak mengenakkan orang di balik tindak-tanduk yang kalem dan sopan. Sampai Yustina, kekasihnya, senanatiasa percaya bahwa segala kekonyolan dan kedunguan Abilawa hanyalah pura-pura. Yustina salah telak, karena sesungguhnya, keahlian utama Abilawa adalah berlagak. Yustina tak pernah menyangka bahwa di balik kulit kepala Abilawa yang digeriapi rambut panjang, juga kumis, jenggot dan cambang; adalah tengkorak tempat berlindung nalar yang congkak. Abilawa terlampau bangga lahir di Amerika. Udara yang pertama dihirupnya udara Amerika. Tanah yang pertama dipijaknya tanah Amerika. Air yang pertama direguknya air Amerika. Ia selalu menilai setiap dan seluruh kenyataan dengan ukuran Amerika.

Kalau di Amerika, tempat kumuh dan busuk seperti ini pasti sudah dibasmi. Diganti supermarket dengan etalase-etalase kaca tembus pandang, di mana kalian merasa leluasa memandang aneka benda warna-warni yang tertata rapi sekaligus bisa bercermin mematut diri. Di sana tak ada hawa sesak dan sengak. Udara segar selalu berhembus ringan dari mesin-mesin pendingin ruangan. Tak ada bau busuk. Hidung kalian akan dimanja harum parfum. Tak lantai yang kumuh dan lumer. Kaki-kaki kalian akan memainkan ketukan-ketukan ritmik dari persentuhan sol sepatu dan gilap marmer. Tak ada suara tawar-menawar segaduh cericau manyar, karena semua harga ada bandrolnya sehingga telinga kalian terasa lebih lapang menampung alunan musik dan tutur kata gadis-gadis penjaga yang cantik. Pendeknya, kalau di Amerika...

Tentu saja Abilawa tak sungguh-sungguh berkisah tentang keadaan Amerika. Pengetahuannya, termasuk tentang Amerika, sedikit sekali, tak beda dari kebanyakan orang awam di negeri ini. Sebagai penulis ia juga jarang baca, kecuali karangannya sendiri. Memang betul, ia lahir di Amerika, tapi masa kecilnya ia lakoni di pedalaman Bantul, Yogyakarta. Setelah dewasa ia jadi manusia urban di Jakarta. Bekerja sebagai penulis caption, keterangan gambar, di sebuah majalah hiburan, sambil kuliah entah apa di perguruan tinggi swasta (ia tak pernah mencantumkan bagian ini pada biodatanya), dan sesekali menulis cerita-cerita khayal yang tak masuk akal.

Sebelum keluar pasar Abilawa melihat dua orang berseragam sedang menarik uang retribusi dari para pedagang. Seketika hatinya meradang. Ia bayangkan jumlah uang yang terhimpun dalam sehari, seminggu, sebulan... tapi ia gagal menelusur ke mana uang itu menghambur. Ia saksikan sebuah ironi: di satu sisi pasar yang bagai borok, becek dan busuk, di sisi lain arus uang yang deras mengucur. Ia menyimpulkan, uang itu tak pernah kembali untuk memperbaiki sumbernya, pasar itu, menjadi tempat yang lebih sehat, tapi menumpuk berkarat di kantong para pejabat setempat.

Di sini, pajak telah menjelma jerat berabad-abad. Tapi mengapa orang-orang itu selalu taat? Dulu, di masa penjajahan, memang ada perlawanan. Tapi perlawanan baru meluas setelah jerat itu menyentuh leher dan mereka tak lagi bebas bernafas. Mengapa, sekarang, orang-orang itu seakan tak mewarisi semangat perlawanan nenek moyang? Apakah nyali mereka getas lantaran takut ditumpas? Ah. Kalau di Amerika, pemerasan seperti ini tak mungkin terjadi.

Abilawa tak tahu, peristiwa yang terjadi di Amerika kurang dari dua dekade lalu. Saat itu, di Negara Bagian California, rakyat bergerak, melancarkan pemberontakan pajak. Tapi, berbeda dari yang ia bayangkan, yang memberontak di sana adalah kaum menengah, yang terbilang kaya, lantaran tak sudi uang pajak yang mereka bayarkan digunakan pemerintah untuk membiayai hidup orang jompo, orang kere, orang kulit hitam; orang-orang yang mereka sebut kaum pemalas tak tahu diri, yang menahan gerak roda ekonomi.


HexWeb XT DEMO from HexMac International