| Senin, 07 Februari 2005 | INTERNASIONAL |
Empat Teknisi Mesir Diculik di IrakBAGDAD - Empat teknisi Mesir yang bekerja pada perusahaan telekomunikasi raksasa Mesir, Orascom, diculik di depan rumah mereka di Bagdad Minggu kemarin, kata seorang juru bicara kepada AFP. ''Mereka sedang bekerja di perusahaan cabang Orascom di Irak. Itu terjadi hari ini, menjelang pukul 11.00 di depan rumah mereka di Bagdad,'' kata juru bicara itu, yang meminta namanya tidak ditulis. ''Kami belum memiliki seluruh rincian kejadian,'' katanya menambahkan. Menurutnya, keempat orang itu tidak bekerja langsung di bawah perusahaan Iraqna, cabang Orascom yang beroperasi bagi jaringan telepon seluler di wilayah Bagdad. Iraqna telah berulang kali dituduh oleh pemerintah membantu para gerilyawan sedangkan gerilyawan menuduh mereka membantu AS. Penculikan itu terjadi tidak lama setelah kelompok gerilyawan menyandera wartawati Italia. Satu kelompok yang sebelumnya tidak dikenal telah mengakui bertanggung jawab atar penyanderaan terhadap wartawati Italia Giuliana Sgrena dan mengancam akan membunuhnya dalam 48 jam, jika Roma tidak menarik tentaranya ke luar dari Irak. Kelompok itu, yang menamakan diri Organisasi bagi Jihad di Negara-Negara Mesopotamia, menyampaikan ancaman lewat internet, dengan mengatakan satu pengumuman bagi penarikan tentara Italia harus disampaikan Senin malam. ''Pelaksanaan hukuman terhadap sandera Italia Giuliana Sgrena akan dilaksanakan dalam 48 jam jika pemerintah Italia, yang dipimpin penjahat (Silvio) Berlusconi, tidak mengumumkan penarikan mundur dari Irak,'' kata pernyataan yang bertanggal 5 Februari itu. Soal Hasil Pemilu Sgrena, seorang koresponden veteran Timur Tengah diculik sekitar sebulan setelah Aubenas dan Al Saadi hilang. Dia ditangkap pada siang hari dekat Universitas Bagdad, beberapa menit setelah dia menghubungi korannya di biro Roma dengan mengatakan bahwa dirinya aman. Sementara itu, sepekan setelah pemilu bersejarah Irak, hasil penghitungan masih tetap misterius. Anggota komisi pemilu mengeluarkan hasil sementara dua hari lalu, tetapi tidak ada informasi tambahan sejak itu. Penghitungan sejauh ini menempatkan koalisi Syiah unggul dengan dua pertiga suara. Penghitungan tersebut didasarkan pada hasil dari 35 persen tempat-tempat pemungutan suara (TPS) di wilayah-wilayah Syiah. Didorong oleh keunggulan besar tersebut, koalisi Syiah menyatakan seharusnya mereka mendapat jabatan perdana menteri dalam pemerintahan baru. Jabatan PM itu saat ini dipegang Iyad Allawi, blok Syiah sekuler yang mendapat tempat kedua dengan mengumpulkan 18 persen suara. Kendati demikian, karena sebagian besar suara yang dihitung sejauh ini baru berasal dari daerah-daerah Syiah, hasilnya bisa berubah cepat, terutama ketika suara-suara dari wilayah Kurdi di Irak utara telah dihitung. (rtr-ben-ant-46) |