logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Februari 2005 EKONOMI
Line

Mencari Bentuk Kewajaran Harga Saham

BULAN Januari sebagai bulan permulaan tahun pada umumnya merupakan awal periode investasi bagi para investor manca negara. Bila pada suatu bursa terpilih oleh mereka sebagai suatu ladang investasi, maka pada bursa tersebut akan bergairah yang ditandai dengan maraknya perdagangan.

Frekuensi dan volume serta nilai transaksi yang tinggi akan mewarnai perdagangan pada bursa tersebut. Bila keadaan demikian terjadi, maka berarti terjadilah apa yang disebut dengan January effect. Keadaan demikian akan merupakan salah satu tanda optimisme pasar dalam menghadapi tahun 2005. Bagaimana dengan keadaan pada Bursa Efek Jakarta ?

Frekuensi perdagangan, volume perdagangan dan nilai perdagangan di BEJ pada bulan Januari 2005 menunjukkan keadaan yang relatif meningkat. Nilai perdagangan harian rata-rata sebesar Rp 1,75 triliun per hari dan pernah terjadi nilai perdagangan harian tertinggi sebanyak Rp 3,13 triliun.

Keuntungan Pasar

Maraknya frekuensi perdagangan, volume perdagangan dan nilai perdagangan telah menggambarkan terjadinya January effect. Indeks harga saham gabungan awal bulan Januari pada posisi 1.000,9 dan pada akhir bulan pada posisi 1.045,4 berarti keuntungan pasar naik 4,5%. Bagaimana perkembangan pada bulan-bulan mendatang ?

Berbagai jenis saham yang diperdagangkan di bursa mempunyai keadaan yang beragam. Beberapa jenis saham penggerak pasar dengan nilai perdagangan yang tinggi keadaan harganya sudah relatif tinggi. Saham Telkom dan Indosat pada awal bulan masing-masing pada harga Rp 4.925 dan Rp 5.850 per lembar berada pada kisaran harga yang relatif cukup tinggi.

Dengan demikian bagi investor yang sudah merasa untung cenderung melakukan aksi profit taking atau menjual sahamnya untuk ambil untung, sehingga harga saham Telkom untuk sementara relatif tidak mengalami kenaikan.

Salah satu tolok ukur untuk melihat apakah suatu jenis saham harganya sudah relatif tinggi, yaitu menggunakan ukuran perbandingan antara harga saham dengan keuntungan perusahaan atau price earning ratio (PER).

Semakin tinggi angka PER pada suatu saham berarti menggambarkan bahwa harga saham tersebut semakin mahal. Pada saham yang harganya tinggi tercermin bahwa keuntungan dari perusahaan yang menerbitkan saham tersebut tinggi.

Untuk saham Telkom diperdagangkan dengan harga pada kisaran PER sebesar 14 kali sampai 15 kali. Sedangkan saham Indosat relatif lebih mahal harganya karena diperdagangkan pada PER yang lebih tinggi lagi.

Saham Gudang Garam dan HM Sampurna pada awal bulan masing-masing pada harga Rp 13.300 dan Rp 6.600 per lembar atau pada PER sebesar 12,64 dan 12,57 yang berarti relatif lebih murah dari saham Telkom dan Indosat.

Oleh karena itulah pada bulan Januari saham Gudang Garam dan HM Sampurna lebih menjadi pilihan bagi investor pemimpin pasar, karena semula harganya relatif lebih murah dari saham Telkom dan Gudang Garam.

Hal tersebut sejalan dengan teori equity atau teori keadilan, teori kewajaran. Sebagai ilustrasi seorang pekerja semula merasa puas mendapat gaji dengan jumlah tertentu, tetapi ketika dia tahu bahwa seorang yang setingkat dengan dia ternyata mendapatkan gaji yang lebih besar dia yang tadinya puas, menjadi tidak puas. Pekerja tersebut merasa tidak mendapat keadilan atau tidak mendapat perlakuan yang wajar.

Saham Telkom pada harga tersebut dengan PER dalam kisaran 14 sampai 15 kali sebenarnya termasuk kelompok jenis saham yang belum terlalu mahal harganya. Namun demikian investor penggerak pasar melihat dan memilih saham Gudang Garam dan HM Sampurna yang saat itu harganya dengan posisi PER yang lebih murah.

Meningkat Tajam

Dengan terpilihnya saham rokok tersebut oleh investor penggerak pasar, maka dalam kurun waktu bulan Januari harganya meningkat tajam. Saham Gudang Garam telah meningkat harganya dari harga semula Rp 13.300 menjadi Rp 17.150 atau naik 29% dalam kurun waktu satu bulan tersebut.

Sedangkan saham rokok HM Sampurna telah naik harganya dari harga semula Rp 6.600 menjadi Rp 7.400 atau berarti dalam waktu satu bulan harganya telah naik sebesar 12,1%. Kenaikan tersebut dapat mengimbangi adanya aksi ambil untung pada saham Telkom dan Indosat, sehingga secara keseluruhan keuntungan pasar selama bulan Januari mengalami kenaikan sebesar 4,5%.

Kenaikan harga yang tajam pada saham Gudang Garam dan HM Sampurna menjadikan posisi PER- nya berubah. Saham Gudang Garam waktu pada harga Rp 13.300 posisi PER 12,64 dan waktu harganya naik menjadi Rp 17.150 posisi PER-nya berubah menjadi lebih tinggi sebesar 16,30. Berarti pada harga baru tersebut posisinya berubah menjadi relatif lebih mahal dari saham Telkom.

Sedangkan untuk saham HM Sampurna posisi PER nya juga berubah. Semula waktu harga Rp 6.600 posisi PER sebesar 12,57 dan sesudah harganya naik menjadi Rp 7.400 maka posisi PER-nya bergeser menjadi 14,09 yang berarti hampir sama dengan posisi PER saham Telkom pada harga akhir bulan Januari.

Mengingat pergeseran posisi tersebut, maka pada bulan mendatang cenderung prioritas pemilihan saham oleh penggerak pasar tidak lagi pada Gudang Garam yang harganya kini menjadi relatif lebih mahal, kecuali ada peristiwa tertentu.

Dapat saja terjadi saham telekomunikasi yang kini dilihat dari posisi PER-nya yang berarti relatif lebih murah akan menjadi pilihan investor penggerak pasar. Bagi saham-saham yang lain yang kini mempunyai PER yang positif dan relatif lebih rendah berarti mempunyai potensi untuk menuju keseimbangan kewajaran harga.

Saham Astra Internasional akhir bulan Januari pada harga Rp 10.000 dengan PER 7,62 yang berarti meski harga sudah tinggi masih relatif lebih murah dari harga saham Telkom, Indosat, Gudang Garam maupun HM Sampurna.

Pada berbagai jenis saham masih dijumpai jenis saham yang diperdagangkan dengan PER yang tinggi rendahnya beragam. Justru karena adanya keragaman itulah berarti masih terbuka adanya peluang mendapatkan keberuntungan.

Hal itulah merupakan salah satu faktor yang sementara ini maupun bulan-bulan mendatang yang dapat mempertahankan dan meningkatkan kinerja bursa, selain faktor lain yang dipertimbangkan oleh para investor dalam penentuan prioritas investasinya. (Dr Sugeng Wahyudi, dosen strategi dan keuangan pada Program MM Undip-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA