| Minggu, 06 Februari 2005 | OLAHRAGA |
Gladiator Baru Kelas BeratGELIAT tinju kelas berat di tahun ini tampaknya masih menjadi fonemena tersendiri. Mengapa? Ya karena di kelas berat ini masih dipandang kelas paling bergengsi yang tidak sekadar menghadapkan dua petinju berpostur besar di atas 90 kg, namun juga honor dan sensasi besar. Suka atau tidak suka kelas berat saat ini telah kehilangan bintang. Para alumnus Olimpiade tak mampu melahirkan seorang primadona. Kontradiksi dengan pemandangan tinju kelas berat lima, 10 tahun yang lalu, atau 30 tahun yang silam yang begitu padat persaingan. Sebutlah nama-nama angker seperti Mohammad Ali, George Foreman, Joe Frazier, Ken Norton yang berkibar di era tahun 1970-an. Setelah itu muncullah sang primadona kelas berat Larry Holmes, Mike Tyson, Riddick Bowe, Evander Holyfield, Lennox Lewis. Setelah Lewis menggantungkan sarung tinju tahun lalu, nyaris tidak terdengar aroma harum bintang lainnya. Bahkan kalau boleh saya katakan tahun ini praktis kelas berat dihuni banyak petinju tua, yang tak lama lagi mereka pun akan pensiun seirama bertambahnya umur mereka. Tiga tahun ke depan Mike Tyson akan berusia 42 tahun, Andrew Golota berusia 40 tahun, Chris Byrd akan genap berusia 38 tahun. Sedangkan Evander Holyfield, kini 43 tahun, tiga tahun lagi, 46 tahun, pasti sudah benar-benar loyo di atas ring. Para juara masa kini seperti Vitaly Klitschko juara World Boxing Council (WBC), berusia 33 tahun. John Ruiz, juara World Boxing Assocation (WBA) berusia 33 tahun dan Chris Byrd, juara Internasional Boxing Federation (IBF) tampaknya juga harus tetap waspada, dengan kehadiran sederet generasi baru, yang suatu saat bisa menjadi bom waktu yang dapat menghancurkan mereka. Pesona Danny Williams Salah satu bintang baru yang akan memporak-porandakan tahta kelas berat saat ini yakni Danny Williams dari Inggris yang mengemas rekor apik 32 menang (27 KO)-4-l. Kemenangan KO Williams atas "si Leher Beton" Mike Tyson benar-benar merupakan pukulan teramat berat buat mantan juara dunia kelas berat sejati tersebut. Bahkan kalau saja, anak didik pelatih Jimmy McDonnell tak mengalami cedera bahu, saya prediksikan bisa menumpas popularitas petinju terbaik kelas berat saat ini Vitaly Klitschko. Gempuran pukulan hook kiri-kanan maupun straight kanannya memang kejam dan menakutkan lawan-lawannya. Semangat bertarung yang luar bisa, salah satu syarat untuk menjadi bintang telah diperlihatkan kala menantang Klitschko di New York Desember lalu. Bayangkan dalam kondisi cedera bahu sejak ronde kedua, ia masih mampu memberikan perlawanan keras, kendati dirinya sempat roboh empat kali digedor kombinasi pukulan maut Klitschko. Dan pertarungan dahsyat serta bersimbah darah itu akhirnya harus dihentikan wasit di ronde ke delapan. Cedera bahu atlet berpostur kekar (190 cm, 120 kg) ini telah putih, dan promotor Frank Warren memberi isyarat, akan kembali bertarung Maret mendatang dengan lawan yang belum bisa disebutkan namanya. Ambisi gila lainnya muncul dari bintang muda Joe Mesi, yang rnempunyai rekor maut tak terkalahkan dalarn 29 kali duel (25 dengan KO)-0-0. Dalam duel terakhir melawan Vasily Jirov, Raja KO berusia 30 tahun menang angka, namun sempat terbanting di kanvas tiga kali. Sering mendapatkan pukulan keras Jirov yang mengakibatkan otaknya mengalami pendarahan ringan. Menurut para dokter di Nevada, kendati cedera otak ringan seperti itu bisa menewaskan petinju yang ngotot meneruskan kariernya. Namun baik Mesi maupun manajer yang juga ayah kandungnya Jack Mesi tak mempermasalahkan secara serius. (Paulus Noor Mulia-57) |