logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 06 Februari 2005 BINCANG BINCANG
Line

Guru Baik yang Kesengsem Hik

TURNOMO Rahardjo kesengsem betul pada hik, sejenis kedai makan minum khas Solo. Keterpikatan itu muncul saat Ketua Jurusan Komunikasi FISIP Undip ini melakukan penelitian untuk disertasi yang mengangkat persoalan komunikasi etnis Tionghoa dan Jawa di Solo, beberapa tahun lalu.

"Saya melihat, warung hik sangat bermanfaat menjadi ruang publik yang memungkinkan orang-orang dari berbagai latar budaya, agama, maupun etnisitas bisa ngobrol dalam kesetaraan. Di tempat itu, ungkapan-ungkapan semacam 'Kowe Cina edan' atau 'Jawa kenthir', atau 'Arab gemblung' bisa diekspresikan tanpa kebencian," kata doktor Komunikasi Antarbudaya lulusan UI ini.

Dari penelitian itu, ia memperoleh sebuah pengetahuan yang baru terkait dengan komunikasi antarbudaya, yang semula tak diduga. "Kalau dalam pemahaman teoretis, hal-hal semacam etnosentrisme, prasangka, dan stereotype itu kan menjadi kendala dalam komunikasi antarbudaya. Namun justru pada saat-saat tertentu hal-hal itu menjadi daya pendorong untuk berkomunikasi dengan lebih baik."

Kata dia, sifat multikultur yang melekat pada masyarakat Indonesia merupakan aset tak ternilai. Namun di sisi lain, sifat itu menciptakan konflik yang besar. Acap konflik terjadi karena perbedaan latar budaya. Bahkan konflik itu mulai menuju upaya peniadaan satu kelompok budaya atau ethnic cleansing.

Celakanya, selama ini penyelesaian konflik masih artifisial. Ada keterlibatan pihak-pihak ketiga yang mencoba menyelesaikan konflik itu dengan mengundang petinggi-petinggi yang berkonflik. Namun, tandas dia, tidak pernah resolusi konflik mengarah ke hal-hal mendasar. Karena itu hal yang menjadi penyebab konflik tidak pernah terungkap.

"Dalam studi yang saya lakukan, sebenarnya konflik itu tidak disebabkan oleh perbedaan latar belakang budaya. Namun lebih disebabkan oleh kesenjangan ekonomi, sosial, atau persoalan politik," tandas pria kelahiran Semarang 30 Oktober 1960 ini

Obsesi

Keinginan untuk berbagi kasih juga dilakukan di rumah, Jalan Ratu Ratih IV/33 Perumnas Tlogosari. Ia selalu berusaha meluangkan waktu berdialog dengan kedua anaknya, Bayu Bagas Pratomo (11) dan Gigih Lintang Prasetyo (6), dan tentu saja dengan Erika Sufarinah, istri tercinta.

Setiap pulang kantor dia menyempatkan diri untuk belajar atau sekadar membaca bersama anak-anak. Dia mengaku, dalam berkomunikasi senantiasa berusaha menjadi kawan bagi anak dan istri.

Ketika ditanya apa obsesi yang masih tersimpan di benak, spontan dia menjawab, "Saya ingi jadi guru yang bener. Artinya, saya tidak akan melakukan aktivitas lain di luar kompetensi saya."

Menurut pengakuannya, tak ada darah guru yang mengalir dalam dirinya. alamarhum Joko Sukirno, ayahnya, adalah pegawai negeri sipil di Kantor Kas Negara. Ibunya, alamarhumah Suhartini adalah ibu rumah tangga biasa.

"Saya senang dengan suasana yang bisa membuat saya bisa bertukar pikiran dengan orang lain. Saya suka berbagi dengan orang lain tentang pengetahuan yang saya miliki. Suasana semacam itu bisa saya dapatkan di kampus."

Sekarang ini, menurut pendapat dia, ada sesuatu yang merisaukan pikirannya. Banyak dosen yang melakukan aktivitas di luar kompetensi. Hal itu membuat situasi yang tidak nyaman bagi mahasiswa. Proses belajar di kampus menjadi terabaikan. Guru yang baik, menurut Turnomo, bisa mencurahkan sebagian besar waktunya dalam konteks belajar mengajar di kampus. Itulah yang membuat putra keempat pasangan Joko Sukirno-Suhartini itu memilih menjadi dosen saja. "Silakan berkiprah di luar, tetapi harus kembali ke habitat sebagai dosen untuk menggalakkan aktivitas pembelajaran di kampus." (Achiar M Permana-72)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA