logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 05 Februari 2005 PANTURA
Line

Penjaga Pintu Air Bendungan Parakan Kidang

Kebal Makian Petani dan Godaan Setan

BERSIKAP adil dan bijaksana, bukanlah sesuatu yang harus dimiliki seorang pemimpin. Sebab bagi seorang PNS, yang bekerja di daerah terpencil dan jauh dari kebisingan kota, sikap seperti itu tetap harus dikedepankan.

Itulah gambaran sekilas bila mencermati sikap yang harus dikedepankan dua petugas Penjaga Pintu Air (PPA) Bendungan Parakan Kidang di Desa Jembayat, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal.

Kedua petugas itu adalah Suroso (50) dan Samian (48). Mereka berdua tercatat sebagai PNS di Sub Proyek Pemali Comal Prosida.

Mereka bekerja sejak tahun 1974, atau sudah 31 tahun mengabdi.

Banyak suka duka selama bekerja sebagai pengatur jatah air untuk areal persawahan seluas 1.704 hektare. Areal persawahan seluas itu, terdapat di Desa Jembayat, Jatilawang, Kalisalak, Jatilaba, dan Paku Laut. Semuanya di Kecamatan Margasari.

''Kerja di tempat terpencil dan jauh dari keramaian harus kebal apa saja. Ya, kebal semprotan atau makian dari petani, juga godaan setan penunggu bendungan yang dibangun sejak pemerintahan Kolonial Belanda,'' tutur Samian yang mengaku menerima gaji Rp 940.000/bulan ini.

Suroso rekan kerja Samian menambahkan, jika dirinya tidak bisa mengatur jatah air untuk ribuan hektare, bisa kena omelan petani.

Apalagi seandainya kejadian tersebut saat musim kemarau tiba.

Mengatur air merupakan pekerjaan yang cukup menyita tenaga dan pikiran.

Harus Sabar

Suatu kali, mereka pernah didatangi puluhan petani dari Desa Paku Laut.

Rombongan petani itu langsung memaki-maki, lantaran areal sawahnya sejak beberapa hari tidak kebagian air.

''Mengadapi orang yang emosi, ya harus sabar. Setelah dijelaskan permasalahannya, mereka juga mau mengerti posisi saya,'' tutur Samian.

Bukan hanya harus sabar dan kebal terhadap makian petani yang emosi, kerja di tempat sepi dan kalau malam hanya ditemani deritan belalang dan suara katak, mereka juga harus tahan terhadap godaan setan dan makhluk halus lainnya.

Selama bekerja puluhan tahun menjaga bendungan yang dibangun sejak tahun 1911 itu, dia sudah berulang-ulang melihat penampakan makhluk halus penunggu bendungan atau sejumlah lokasi di sekitar pintu air.

Di malam tertentu, sering terdengar tangisan suara bayi. Kemudian muncul sosok wanita berbaju putih.

''Tapi, karena saya bekerja hati-hati dan tidak pernah melakukan sesuatu yang berbau pantangan, makhluk halus sejenis setan atau jin ini tidak pernah mengganggu saya. Buktinya, sampai detik ini saya masih bisa bekerja di tempat yang katanya angker,'' tutur dia.

Makhluk halus itu, kata dia, sering meminta korban justru warga dari luar Desa Jembayat. Ini mungkin lantaran sejumlah korban tewas rata-rata berasal dari warga luar desa tersebut.

''Cuma jalan di bantaran Sungai Kaligintung saja, tiba-tiba pingsan dan ada yang meninggal. Berarti, jangan main-main di dekat pintu air atau di bantaran sungai. Itu sih kalau percaya. Wong faktanya ya ada korban jiwa,'' tutur Samian didampingi Suroso. (Riyono Toepra-74)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA