logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 05 Februari 2005 MURIA
Line

PDAM Masih Berlakukan Gilir

  • Air baku Tempuran Belum Maksimal

BLORA - Cukup ironis memang, saat di beberapa daerah lain curah hujan sudah tinggi bahkan tidak jarang menyebabkan banjir, di Blora hujan masih terbilang langka. Akibatnya, banyak petani yang resah karena tanaman padinya terancam mati, termasuk PDAM Blora hingga saat ini masih kesulitan air baku.

Plt Direktur PDAM Blora Riyanto ketika dimintai konfirmasi mengemukakan, salah satu air baku andalan yang dikelolanya, Waduk Tempuran, hingga saat ini airnya belum maksimal. "Ya bagaimana lagi, air di Tempuran belum maksimal karena hujan masih terbilang langka," ungkapnya ketika dihubungi Suara Merdeka, kemarin.

Menurutnya, selama air di Tempuran belum maksimal, apalagi petani di sekeliling waduk itu juga membutuhkan air untuk tanamannya, perusahaannya belum bisa memanfaatkan air di waduk yang terletak di Desa Tempuran, Kecamatan Kota Blora itu. Dia menjelaskan, dalam kondisi normal biasanya PDAM bisa mengolah air dari tempat itu 20 liter/detik. "Saat ini ya sudah bisa 20 liter/detik. Namun, begitu tidak turun hujan beberapa hari dan susutnya air drastis, praktis kami tidak mengambilnya lagi," jelasnya.

Di Ngampel

Ditanya kondisi air baku di Ngampel, Riyanto menjelaskan, saat ini sudah normal, namun pada saat turun hujan tingkat kekeruhan air menjadi tinggi. Kondisi itu juga mengakibatkan mesin yang ada di tempat itu tidak bisa maksimal mengolah air. Dia juga mengatakan, air baku dari Kajar tidak ada permasalahan. Pihaknya bisa memanfaatkan air dari tempat itu 5 liter/detik - 10 liter/detik.

Apakah berdampak terhadap pelanggan? Hingga saat ini kondisi itu masih berdampak terhadap suplai air ke pelanggan. Bahkan tidak jarang PDAM Blora masih memberlakukan sistem gilir. "Begitu hujan kembali jarang, praktis tandon air kami akan berkurang drastis sehingga saat hujan, perlu diisi penuh kembali dan akibatnya kami belum bisa menyuplai air secara maksimal kepada pelanggan," tegasnya.

Sampai saat ini dia masih berharap rencana memanfaatkan air baku di wilayah Kecamatan Todanan bisa terealisasi. Pasalnya, wilayah kecamatan ini ada tiga mata air. Kalau digunakan untuk air baku, kiranya bisa memenuhi kebutuhkan pelanggan yang ada di Blora. (ud-15n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA