| Sabtu, 05 Februari 2005 | EKONOMI |
Mengubah Budaya Perajin Mebel untuk Memenangi Persaingan GlobalGLOBALISASI industri dan perdagangan menimbulkan konsekuensi pada perkembangan industri yang cenderung mengarah pada persaingan keunggulan komparatif. Salah satu instrumen yang paling dekat dan secara langsung berpengaruh pada perdagangan bebas dan globalisasi adalah Standard and Conformity Assesment (SCA). Lewat SCA akan memunculkan kepercayaan di bidang mutu serta persyaratan tertentu yang ditetapkan, misalnya keamanan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan hidup. Agar industri dan perdagangan mebel atau furniture bisa bersaing di pasar global melibatkan tiga faktor yang saling bersinergi dan melengkapi. Ketiga faktor tersebut adalah sumber daya alam atau bahan baku kayu yang terjaga kontinuitas ketersediaan dan kualitasnya, perajin yang kreatif dan inovatif serta mampu menghasilkan berbagai model berkualitas dan ramah pasar, serta industriwan termasuk buyer yang mampu menjadi mediator pengembangan usaha dan pemasaran. Namun hal yang perlu mendapatkan prioritas dari ketiga faktor tersebut adalah menjaga dan meningkatkan kualitas baik dari sisi seni maupun daya tahan yang menjadi penentu utama industri mebel agar dapat maju dan berkembang di era global. Industri mebel yang menjadi andalan Jateng saat ini mengalami penurunan akibat berbagai hal. Di pihak lain, makin banyak tantangan yang harus dihadapi baik dari segi persaingan pasar, pelestarian usaha, maupun peraturan ekspor. Persoalan yang dapat mengancam kelestarian industri mebel di Jateng terkait dengan penolakan pasar karena kualitas produk yang tidak memenuhi standard serta minat investasi yang rendah. Persoalan kualitas ternyata tidak bisa diselesaikan secara teknis produksi dengan otorisasi keahlian saja, karena menyangkut pula kondisi sosial budaya dan perkembangan teknologi masyarakat yang merupakan kelompok mayoritas di belakang industri mebel. Industri tersebut mempunyai sentra produksi, antara lain Jepara, Semarang dan sekitarnya (Kendal, Grobogan, Demak), Blora, Klaten, dan Sukoharjo. Telah dibentuk pula cluster yang meliputi pemasok, produksi, dan sistem pemasarannya. Beberapa pengusaha bergerak sejak proses produksi sejak aliran bahan baku sampai finishing. Ada juga yang kegiatannya hanya finishing, sedangkan bahan baku dan produk awal dilakukan oleh perajin sebagai kegiatan home industry atau industri rumahan. Bahkan ada pengusaha mebel yang hanya menangani pengumpulan dan pengiriman barang antarpulau atau ke luar negeri. Pada situasi pertama, sistem pengujian kualitas dan tanggung jawab pengembangan teknologi sudah merupakan bagian dari usaha. Namun pada situasi kedua dan ketiga sangat terpengaruh oleh apa yang terjadi di masyarakat, sehingga proses peningkatan kualitas menyangkut proses pengembangan sosial dan peningkatan kualitas sumber daya masyarakat. Hal itu bukan soal mudah dan merupakan masalah eksternal perusahaan, serta di tingkat provinsi pun tidak mudah dilakukan mengingat otonomi daerah memberi kewajiban kepada kabupaten dan kota melalui instansi masing-masing untuk memberi fasilitas dan pembinaan. Dari beberapa masalah yang ditemukan di pasar internasional diketahui banyak produk Indonesia (terutama Jawa) yang dihargai sangat rendah padahal kualitas barangnya cukup baik. Di lain pihak, banyak pula keluhan bahwa barang yang diterima dalam keadaan rusak padahal contoh yang ditunjukkan baik. Kedua hal itu memberi arah kemana langkah untuk mengembangkan pasar dan memuaskan konsumen. Kepuasan Konsumen Promosi memang senjata awal untuk mencapai pasar, namun harus diikuti oleh kualitas barang, baik bahan baku, desain, maupun konstruksi dan sistem pengiriman yang aman. Tingkat kepuasan konsumen yang tinggi akan mendorong peningkatan permintaan dan berlanjut pada kenaikan pangsa pasar. Karena itu, produk berkualitas semestinya dihargai secara pantas. Mengingat nilai kayu sangat tinggi, tidak ada salahnya harga produk terutama untuk ekspor juga dipatok tinggi. Hal itu tidak semata-mata ditujukan untuk meraup keuntungan, melainkan juga memberi peluang untuk meningkatkan upah tenaga kerja dan melakukan investasi teknologi di bidang pengembangan bahan dan desain. Dari investasi teknologi itu diharapkan dapat ditemukan bahan lain pengganti kayu atau melalui upaya meningkatkan hasil tanaman hutan produksi dalam waktu lebih pendek. Meningkatkan kemampuan baik untuk peningkatan nilai tambah maupun kepuasan konsumen harus dilakukan bersamaan. Langkah yang tepat adalah meningkatkan kualitas produk dengan mengubah paradigma, yakni dari kualitas berarti biaya menjadi kualitas adalah keuntungan. Untuk itu pengusaha dituntut siap menghadapi kenyataan bahwa pasar lebih menyukai produk negara lain yang berharga lebih murah. Di Spanyol, mebel berkelas dibuat dari kayu mahoni. Salah seorang warganya merasa sangat bangga mempunyai mebel dari Jepara yang terbuat dari kayu mahoni. Filosofinya adalah harga merupakan nilai kualitas barang tersebut dan harga tinggi berarti barang tersebut merupakan konsumsi kelompok elite. Disarankan agar Jateng mempunyai brand image atau citra merek, yaitu high quality atau kualitas tinggi! Itu adalah tantangan dari konsumen luar negeri dan produksen kita tentu perlu mempertimbangkan pesan di dalamnya. Mebel berharga murah merupakan pangsa pasar negara lain dan konsumen mereka adalah kelompok lain. Tetapi konsumen kita di dalam negeri memerlukan kualitas tinggi dan untuk itu mereka bersedia membayar mahal demi prestise. Banyak kegiatan yang telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk melalui riset, standardisasi, dan sertifikasi. Namun masih banyak hal yang harus dilakukan agar kegiatan tersebut dapat berlangsung terus-menerus dan hasilnya mendapat pengakuan internasional. Langkah ke depan yang perlu dilakukan antara lain meningkatkan kemampuan pendanaan, kemampuan teknologi, kemitraan internasional untuk meningkatkan keahlian dan outsourcing, serta mencoba memperoleh otorisasi lisensi pengujian mebel. Satu hal yang mesti diupayakan adalah bagaimana para produsen terutama perajin industri rumahan dapat mengubah budaya, pola, atau gaya hidup. Dari seadanya dan cepat selesai membuat produk agar segera mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan meskipun harga murah, menjadi tumbuh semangat dan kemampuan profesionalnya sehingga dapat menghasilkan produk berkualitas dengan harga tinggi. Dengan demikian di samping hasil produksinya mampu bersaing di pasar, akan mendapatkan keuntungan lebih yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup serta modal usaha secara berkelanjutan. Pemerintah dan stakeholders terus berupaya membenahi kondisi organisasi pengusaha mebel dan sistem pemasarannya sampai tingkat internasional. Namun produsen terutama perajin perlu meningkatkan kreativitas untuk meningkatkan kualitas hasil produksi agar usahanya makin maju dan berkembang. (Agus Utomo, pengamat masalah permebelan, tinggal di Semarang-53) |