BAGIAN KEDUA
19
SAMBIL rebahan di bangku bambu, di bawah rindang dedaun jambu, Abilawa menunggu. Jam berapa sekarang? Mengapa Yustina belum juga datang? Ia pandang jalanan batu sepanjang gang. Lengang. Hanya lambaian pucuk-pucuk daun pisang, seakan membelai hatinya yang gusar. Sabar, sabar! Lihatlah kami, pohon-pohon yang tak pernah beranjak ini. Di sini kami hanya menunggu, tanpa tahu apa yang kami tunggu, sampai tiba waktu untuk tak lagi menunggu.
Aku bukan kalian! Aku Abilawa, pengarang kelahiran Amerika. Aku ada bukan untuk menunggu. Akulah yang ditunggu.
Abilawa beranjak dari beranda. Ia masuki ruang tengah rumah Danur yang sepi. Di meja makan tersaji menu santap siang yang telah disiapkan istri Danur sebelum mereka sekeluarga pergi ke rumah kerabatnya. Di salah satu sisi dinding, dekat televisi dan tape recorder dan tumpukan kaset-kaset, Abilawa melihat sebuah rak kayu dengan buku berderet. Ditelitinya satu per satu buku-buku itu. Dan pandangnya mendadak nanar begitu dilihatnya dua jilid Negeri Teko Tembikar. Diraihnya jilid pertama, dibukanya lembar demi lembar. Foto-foto penyair yang kelewat percaya diri. Di jantungmu cakrawala dinihari membukakan diri... Apa ini? Kata-kata dangkal, bait-bait majal.
Dengan cepat halaman demi halaman ia biarkan berkelebat. Tapi, sebelum buku itu menutup seluruhnya, sebuah halaman seakan hendak meminta perhatiannya. Abilawa terkesima. Ia lihat sekolom foto hitam putih. Wajah seorang tua yang letih. Di bawah rambut yang tersibak ke belakang, tampak kerut-merut usia pada kening yang lapang. Matanya tajam di balik sepasang kaca berbingkai logam. Kumisnya jarang. Krah bajunya terbuka, menegaskan tonjolan tulang rahang.
Di sebelah kanan gambar terdapat riwayat singkat: Tjioe Wie Tjiat dilahirkan di Desa Kemantran, Tegal, Februari 1925. Pendidikan Muhammadyahschool-Mulo. Mengikuti kursus-kursus jurnalistik dan selanjutnya otodidak. Puisi-puisinya dimuat di berbagai media massa, daerah dan ibu kota. Ia juga menulis cerita pendek dan artikel kolom. Kini, ia ingin mengabiskan sisa umurnya dengan terus menulis puisi.
Ah, luar biasa. Orang ini begitu percaya pada kata. Baiklah, mari kita lihat karyanya.
Abilawa kembali ke beranda. Kembali merebahkan diri di atas bangku bambu, di bawah rindang dedaun jambu. Bait demi bait yang ditorehkan Tjioe Wie Tjiat berhasil mengendalikan debur darah dalam nadinya, membuatnya sejenak lupa pada Yustina.
Segarang-garang pandang gagak
hitamku,
menatap ragu desing peluru
sang pemburu
Dengan remah roti sisa tuan
dan nyonya, sekerat demi sekerat
ia bangun dinasti duka
berabad-abad
Tjioe Wie Tjiat, siapa dia? Danur tentu mengenalnya. Tapi Danur tak ada. Haruskah aku menunggu Danur pulang? Dan Yustina? Mengapa Yustina tak kunjung datang? Aku tak yakin Yustina mengenalnya, tapi setidaknya ia bisa mengantarku ke Kemantran. Di manakah Desa Kemantran? Aku perlu menemuinya. Ya. Kuharap Wie Tjiat tahu lebih detail tentang Gerakan Kutil. Ia sudah berumur dua puluh tahun, ketika revolusi itu berlangsung.
Abilawa tak mendengar deru mobil bergerak lambat. Ia sedang membayangkan pertemuannya dengan Tjioe Wie Tjiat. Lalu klakson menyalak dua kali. Abilawa tersentak, nyaris berdiri. Dilihatnya Yustina nangkring di atas jip tanpa atap. Gadis itu tak beranjak dari kursi di belakang kemudi. Senyumnya mekar. Matanya bersinar. Seluruhnya segar. Kaus kutang ketat putih membalut tubuh yang bersih. Rambutnya basah. Jatuh ke pundak yang basah. Abilawa menelan ludah.
Siap jalan?
Ya, aku mengunci pintu dulu.
Sudah makan?
Belum. Gampang.
Kita ke Soto Talang?
Kita ke Kemantran.
Mobil tua itu menderu. Roda-rodanya yang kasar melempar kerikil ke semak belukar. Sampai di ujung gang langsung menikung ke selatan. Melewati kebun-kebun kosong. Warung kelontong. Toko bahan bangunan. Kios tukang tambal ban. Rumah tua sedang dipugar. Becak dan dokar. Belok kiri. Jalanan kian sepi. Yustina memacu mobil lebih laju. Angin terasa tambah menderu. Rambut Yustina berkibaran. Abilawa terpesona pada pucuk daun telinga Yustina. Abilawa sangat ingin mengulumnya.
Melewati petak-petak sawah-ladang. Perkampungan demi perkampungan. Nikung ke kiri dan belok ke kanan. Lalu hamparan ladang tebu musim tanam. Keluasan yang menenggelamkan perasaan.
Di kejauhan tampak para pekerja, lelaki dan perempuan, duduk bergerombol di keteduhan pohon-pohon pinggir jalan. Yustina menginjak pedal gas. Mobil itu meraung keras. Dan, tepat di hadapan para pekerja yang sedang istirahat, mobil direm mendadak. Ban mencakar aspal jalan. Mobil berhenti seketika. Orang-orang terperanjat. Yustina menyambar leher dan memagut mulut Abilawa. Orang-orang terkesima.
Sambil menahan nafas, menahan bau mulut kekasihnya, Yustina melumat bibir dan lidah Abilawa. Beberapa detik cuma. Sebelum orang-orang itu memahami adegan yang mereka saksikan, Yustina kembali menancap gas mobilnya. Debu berhamburan ke udara.
Tawa Yustina menderai sampai jauh. Bergema ke ladang-ladang. Sepasang kekasih yang gemuruh. Dan orang-orang yang tercengang.