| Jumat, 04 Februari 2005 | SALA |
Suro, Wisatawan Ziarah ke KaranganyarPREDIKAT baru dikenakan kepada Hj Rina Iriani SR: Bupati yang seniman, seniman yang bupati. Selama sebulan (6/2-6/3), ia menggelar kegiatan seni dan pariwisata yang bertaraf internasional, Grebeg Lawu. Bagaimana kegiatan itu, berikut wawancara Suara Merdeka dengan perempuan yang pada akhir tahun lalu meluncurkan album perdana. Apa latar belakang digelarnya Grebeg Lawu? Setiap tahun sekali, di bulan Sura, banyak sekali wisatawan datang ke Karanganyar untuk melakukan wisata ziarah atau spiritual. Di Karanganyar, banyak tempat yang dapat diziarahi dan tempat untuk semedi atau permenungan yang punya nilai spiritual tinggi. Dengan banyaknya pengunjung tersebut, kami ingin menjadikan momen itu untuk pengembangan seni dan pariwisata Karanganyar, agar lebih bergema sampai di mana-mana. Apa yang dilakukan dalam acara Lawu itu? Sederhana saja. Kami mengemas beberapa kesenian atau budaya tradisional khas Karanganyar. Kesenian yang selama ini disajikan secara sederhana, ketika dikemas lebih menarik, ternyata banyak peminatnya dan bisa dijual. Tentu saja, pengemasan yang kami lakukan tidak mengurangi substansi dari nilai-nilai seni dan budaya itu sendiri. Apa saja kesenian yang disajikan ? Pada opening art 7 Februari 2005, warga Desa Mberjo menyajikan suara serumpun bambu. Kemudian, ada tarian Sudamala Dewa Ruci. Ada ritual rutin menyambut malam 1 Sura, seperti jabaleka dan ritual rasulan, serta masih banyak lagi. Di samping itu, ada juga pameran jajan pasar khas tradisional Karanganyar dan sekitarnya. Berbagai atraksi kesenian dan budaya dari daerah lain, diharapkan mampu menambah semaraknya acara itu. Bagaimana dengan pendanaannya? Kalau dihitung, Grebeg Lawu yang digelar selama sebulan itu, paling tidak membutuhkan dana sekitar Rp 600 juta. Namun karena banyaknya relawan yang mendanai kegiatan yang diorganisasi oleh pihak ketiga itu, kami hanya mengeluarkan dana sekitar Rp 50 juta. Apalagi beberapa pembicara seminar maupun grup luar daerah yang menyajikan kesenian tidak menuntut bayaran banyak, bahkan ada yang gratis. Apa yang diharapkan dari acara tersebut? Kegiatan itu adalah bagian dari investasi kami untuk mengangkat dunia pariwisata Karanganyar, agar mampu bergema sampai ke seantero jagat. Investasi pariwisata tidak hanya bisa dirasakan satu atau dua tahun, tapi belasan tahun. Untuk itu, kami minta dukungan masyarakat dan DPRD, karena manfaatnya sangat banyak. Bagaimana dengan predikat baru Anda? Predikat itu bukan kami yang menyebut, tapi masyarakat. Orang tidak cukup bisa disebut sebagai seniman, hanya karena mampu rekaman lagu. Yang penting adalah, bagaimana kami peduli akan kesenian, serta mau menghargai seni dan seniman.(Langgeng Widodo-85a) |