| Kamis, 03 Februari 2005 | NASIONAL |
Mengenal Lebih Dekat Suhu A Djong (2-Habis)Dari Jual Koran sampai ''Ndoyong A Djong''
PERNAH dengar istilah ''ndoyong adjong''? Kalau Anda warga Semarang yang pernah hidup pada masa 1960-an hingga 1980-an, tentu mengakrabinya. Itu istilah untuk menyebut seseorang yang berada dalam kondisi mabuk berat oleh minuman keras. Adjong telah menjadi totem proparte dari minuman anggur kolesom. Sebab sejatinya ia adalah sebuah merek: ''Anggur Tjap A Djong''. Istilah ndoyong adjong membuktikan, betapa merek minuman beralkohol yang diproduksi di Jl Beteng, Gang Tengah, tersebut amat populer di kalangan masyarakat Semarang kala itu. Pada tahun 1980-an, sekumpulan mahasiswa sebuah perguruan tinggi di kota ini bahkan menggunakan ''Ndoyong A Djong'' sebagai nama grup band mereka. Kendati demikian, tak banyak orang tahu, A Djong merupakan pemendekan nama sang pemilik pabrik, Khong A Djong. Ya, dalam satu babak kehidupannya, lelaki uzur itu pernah berbisnis minuman keras dan cukup menangguk untung darinya. Namun, sebelum itu, dia harus bersusah-payah bekerja apa saja untuk sekadar mempertahankan hidup. Setelah 27 tahun belajar kung fu di Tiongkok, dia dipanggil orang tuanya pulang ke Semarang untuk menikah dengan seorang gadis tetangga dari Kampung Gabahan Lengkong Buntu, Auw Yang Ien Nio. Usai menikah mereka pindah ke Kampung Brondongan. Akibat terlampau lama di Tiongkok, Khong A Djong tak bisa berbahasa Melayu ataupun Jawa. Tentu saja, hal itu menyulitkannya dalam berinteraksi, baik sosial maupun ekonomi. ''Pekerjaan pertama yang saya lakoni adalah jualan koran. Sambil jualan, saya belajar bahasa Melayu kepada orang-orang yang suka nongkrong di klenteng-klenteng,'' kisah Khong A Djong. Tak puas dengan hasil menjual koran, dia berganti profesi menjadi penjual mie tie tee keliling. Meski disibukkan dengan pekerjaan, Khong A Djong tak meninggalkan dunia kung fu yang selama 27 tahun dipelajarinya dengan susah payah. Ia latih anak-anak muda di kampungnya belajar jurus-jurus warisan Wong Fei Hong. Semenjak itulah, dia mendapat sebutan ''suhu'' di depan namanya. Main Atraksi Untuk mencari penghasilan tambahan, Suhu A Djong bersama murid-muridnya acap mengadakan atraksi kung fu di kelenteng-kelenteng dan tempat-tempat keramaian lain, seperti Alon-alon Semarang dan Pasar Johar. ''Sering saya main atraksi di pelataran Kelenteng Gedhe (Tay Kak Sie) dan Sie Ong (Sebandaran). Kalau di Alon-alon dan Pasar Johar, pas ada orang adaken jualan jamu.'' Pada 1936, Suhu A Djong dapat tempat melatih kung fu yang lebih representatif. Dia menjadi guru di Hoo Hap Hoei Koen, saat itu masih beralamat di Jl Plampitan. Di perkumpulan tersebut, dia mengajarkan ilmu kung fu aliran Siao Liem. Agar tak menyimpang dari ajaran asli, dia menamakan perkumpulan kung fu Hoo Hap Hoei Koen sebagai Siao Liem Cen Cung Pay (Siao Liem yang orisinal). Suatu ketika ada salah seorang keluarga Mayor Gedonggulo yang berguru kung fu padanya. Saat mendapat kesempatan meneruskan studi di Jerman, dia mengembangkan ilmu kung funya. Dari sanalah, Siao Liem Cen Cung Pay tersebar di seantero daratan Eropa. ''Sampai sekarang ada sekitar 25 cabang di Eropa, dan saya menjadi guru besar atau suhunya. Tapi aneh, di Indonesia sendiri Siao Liem justru tak ada penerusnya,'' katanya. Seburuk-buruk kondisi kehidupan Suhu A Djong, dia alami pada masa akhir pemerintahan kolonial Belanda. Suasana perang tak memberi ruang baginya untuk dapat bekerja dengan baik. Demikian nelangsa, sampai-sampai, untuk dapat sekadar makan, istrinya harus memungut ceceran beras di Pasar Kobong. Ingin mengubah nasib, Suhu A Djong mencoba usaha baru, menjadi gua tiak (pengijon). Kendati tak punya kemampuan dasar gua tiak, dia mantap saja menjalaninya. Sedikit-sedikit ikhtiarnya berbuah hasil. Pemilik alis panjang tersebut menjadi pengepul palawija dan ikan asin di desa Jepuro, Juwana. Komoditas itu selanjutnya dia bawa dan jual ke Semarang. Mula-mula ia hanya mampu menumpang praoto (mobil angkutan) untuk pulang-pergi dari Kota Bandeng itu. Namun setelah usaha dagangnya maju, Suhu A Djong bisa membeli sebuah Harley Davidson. Hasil keuntungan dagang dia kembangkan untuk membangun pabrik minuman anggur ''Tjap A Djong'' seperti telah diurai di awal tulisan ini. Kini, di masa tuanya, Khong A Djong tak mau tinggal diam. Meski tubuhnya telah renta, lelaki yang dikaruniai lima putra, 15 cucu dan beberapa cicit itu masih beraktivitas. Sehari-hari ia membuka praktik penyembuhan patah tulang di rumahnya.(Rukardi-33t) | ||||