logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 03 Februari 2005 SEMARANG
Line

Pelajaran Berharga dari "Celemek Pramusaji"

ADA yang menarik dari pentas seni Belia Kidshow yang diselenggarakan Playgroup dan Preschool Taman Belia, belum lama ini. Pentas anak yang menampilkan kebolehan menari dan menyanyi, boleh jadi sudah lazim dilakukan.

Namun perhelatan yang mengikutsertakan anak-anak sebagai pramusaji tentu memiliki nilai tersendiri.

Keberanian anak-anak TK Taman Belia seolah sedang diuji pada perhelatan sederhana siang itu. Pada saat delapan orang anak tampil membawakan tarian "Jaran Kore", seorang anak tampak menghampiri tamu undangan.

Seragam yang dia kenakan terlihat berbeda dari seragam hari biasa. Lima anak yang sedang bertugas menjamu tamu undangan itu mengenakan celemek bermotif kotak-kotak hitam.

Bersama seorang ibu guru yang memegang baki berisi penuh makanan ringan, anak-anak itu berdiri berjajar.

Sesaat kemudian, seorang anak tampak menghampiri tamu yang baru saja duduk. Langkah anak itu sesekali terlihat ragu. Namun dia tetap maju.

Tangan kanannya memegang piring kertas berisi kudapan ringan. Tepat di hadapan tamu itu, si anak menyerahkan kudapan sambil tersenyum malu-malu.

''Terima kasih, ya. Pintar dan berani sekali,'' seru tamu itu sambil mencubit lembut pipi anak yang memberikan kudapan.

Sepanjang acara, anak-anak "bercelemek" itu tak semata-mata hanya bertugas menjamu para tamu. Pada saat sesi doa, salah seorang di antara mereka tampak maju menuju panggung. Tangannya sigap meraih mikrofon dan doa penutup acara pun dia ucapkan dengan lancar.

''Anak-anak memang dididik agar dapat mengembangkan kecerdasan ganda. Mereka tak hanya diajari menyanyi dan menari. Lebih dari itu, mereka diajari untuk bersosialisasi, melayani diri sendiri dan orang lain,'' tutur Ir Nila Kusumaningtyas, Ketua Yayasan Puteri Ibu yang menaungi Preschool Taman Belia.

Model pendidikan yang dikembangkan Taman Belia menitikberatkan pada pendidikan anak usia dini (PADU). Metode montessori dikembangkan untuk mengasah kecerdasan ganda anak-anak usia 1,5 hingga 6 tahun di taman bermain ini.

Agar nilai-nilai pembelajaran lebih mudah dicerna, taman pendidikan ini menggunakan model moving class. Setiap hari, anak-anak diajak belajar di ruangan yang berbeda-beda.

Taman pendidikan itu menyediakan enam kelas, meliputi baby class untuk anak usia 1,5-2 tahun, toddler B1 untuk anak usia 2-2,5 tahun, dan toddler B2 untuk anak usia 2,5-3 tahun. Berikutnya adalah playgroup untuk usia 3-4 tahun, junior preschool, dan senior preschool.

''Setiap kelas setiap hari berpindah-pindah ruang tergantung pelajaran yang hendak disampaikan. Hari ini, seorang anak bisa berada di ruang komputer. Kali lain dia berada di ruang gymnastic,'' lanjut Nila.

Setiap guru yang mengajar di sekolah itu juga diminta mengajarkan model pendidikan campuran. Nila menyebutkan setiap kelas memiliki sudut-sudut dengan aneka media permainan anak.

Dalam satu kelas, ada media balok, air, balon. Kali lain, kelas itu juga menjadi center area di mana kelas itu menjadi pusat permainan pasir dan balok.

Kesemua metode itu, seperti kata Nila, untuk membentuk kelengkapan budi pekerti anak-anak. Pada satu sisi, anak diajari menari, menyanyi, menggambar, dan bereksplorasi lingkungan.

Kali lain, dengan "celemek pramusaji" dan perhelatan sederhana di akhir semester, anak diajak bersosialisasi dengan orang lain. (Ninik Damiyati-91)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA