BAGIAN Pertama

17

DI sebuah garasi yang telah diubah menjadi ruang kerja sederhana, Abilawa merenungkan asal mula niatnya menulis novel tentang Kutil. Nama dan sepak terjang tokoh itu memang telah ia dengar sejak lama. Namun baru di pertengahan dekade terakhir abad kedua puluh Abilawa tergugah dan ingin bersungguh-sungguh melacak jejaknya lebih jauh.

Saat itu para pelaku kesenian di Tegal tengah bergairah. Di antara kota-kota sepanjang pantai utara Jawa, selain Jakarta, hanya Tegal yang berhasil membangkitkan iklim berkesenian sebagai imbangan bagi kesibukan masyarakatnya yang terserap ke dalam dunia dagang.

Cirebon, yang pada masa lalu menjadi salah satu pusat kekuasaan di Tanah Jawa, di mana seni menjadi bagian dari hidup sehari-hari dan telah berpadu dengan kegiatan dagang maupun keagamaan; saat itu tak ada geliat seni yang berarti. Brebes dan Pemalang bahkan seolah hilang dari peta kesenian.

Pekalongan tak berkutik menghadapi kemapanan citranya sendiri sebagai Kota Batik, kecuali beberapa putra-putri terbaiknya yang cukup dikenal di medan intelektual. Dari Batang, Weleri, Kendal, sampai Semarang, dari Demak, Kudus, Jepara, Pati, hingga Surabaya; para pelaku seni masih saja mengandalkan keganjilan dan eksentrisitas di kalangan mereka sendiri. Begitulah keadaannya, dalam kenangan Abilawa.

Dan dalam kenangan Abilawa pula, Tegal adalah kekecualian. Maka ia pun sering bertandang ke sana. Mengamati kiprah rekan-rekan sejawatnya. Menjadi pemirsa tingkah polah sejumlah seniman ternama dari ibu kota. Menjadi saksi atas keriangan dan keriaan para perangkai kata yang merangkum karya-karyanya dalam Negeri Teko Tembikar. Menyikapi lagak-lagu mereka, Abilawa hanya tertawa.

Orang-orang kerdil! Mustinya mereka malu kepada Kutil. Jika memang hendak mengabadikan kenangan tentang Tegal, berendah hatilah. Wilayah ini telah menggoreskan catatan penting dalam sejarah. Negeri Teko Tembikar, yeah, betapa tidak cemerlang! Jika dulu mereka bertanya kepadaku apa bagusnya judul buku itu, akan kubilang: Negeri Talang. Ya, Negeri Talang. Sebab, dengan dua kata itu, seluruh pengorbanan rakyat dalam melawan penindasan penjajah dan para pangreh praja akan kembali terkenang.

Negeri Talang. Presiden Soekarno telah menyebutnya. Soekarno bukan penyair dan ia menyebut penamaan itu untuk Brebes, Tegal, dan Pemalang yang bergolak, namun ia tahu di mana pusat pengaruh yang menggerakkan pergolakan itu. Ia tak menyebut Kutil lantaran Kutil hanya orang kecil, hanya tukang cukur, hanya guru ngaji di surau-surau kampung, hanya seorang lenggaong. Tapi, ia menyebut Negeri Talang, karena ia tahu dari Talang si kecil Kutil meradang dan memimpin gerakan.

Sejak saat itulah arwah Kutil seolah merasuki jiwa Abilawa. Kutil menjadi tokoh yang ia damba. Abilawa lantas membiarkan rambutnya panjang, membiarkan kumis dan cambang, seakan ia sedang menyiapkan sesajian paling patut bagi Kutil si pemangkas rambut. Abilawa akan terus mengumbar rambut-rambut itu tumbuh liar, sampai ia temukan tukang cukur yang benar-benar sepiawai dan seterampil Kutil.

Abilawa merasa perlu sering-sering berkunjung ke Tegal, agar jejak Kutil bisa lebih ia kenal. Abilawa merasa mujur dan bersyukur ketika suatu hari nasib baik mempertemukan dirinya dengan Danur. Lebih dari seorang guru yang bersahaja, Danur juga dikenal sebagai pencipta dan penggiat sastra. Barangkali karena keduanya sama-sama terpesona pada sastra, hubungan mereka yang semula sebatas teman jadi kian mendalam sampai seperti saudara.

Cukup lama, memang, Abilawa tak bertandang. Tapi ia belum lupa jalan ke rumahnya. Jika bus yang ditumpanginya dari Jakarta telah melewati pusat kota Tegal, lalu mengarah ke Pemalang, Abilawa akan memperhatikan pemandangan di sebelah kiri jalan. Jika telah dilihatnya jajaran kios di Pasar Mertoloyo, Abilawa segera minta diturunkan di pertigaan. Lalu ia akan naik becak menyusuri Jalan Poso.

Setelah melewati tanjakan rel kereta api, ia akan memperhatikan plang-plang dari papan di ujung gang. Biasanya, Abilawa lantas turun pas di seberang Gang XV. Sebenarnya ia bisa diantar sampai ke tujuan. Tapi, sering kali, Abilawa pilih berjalan kaki. Menapaki jalan batu berlubang sambil memperhatikan jajaran pohon pisang sepanjang kebun kosong di sebelah kanan.

Aih, rumah yang mungil bersih menghadap ke timur. Di sana aku acap menumpang tidur. Apakah gambar gunungan berukuran besar masih terpajang di dinding depan kamar? Apakah pohon jambu di depan rumah sudah berbuah? Apakah jalan batu sepanjang gang masih berlubang? Ya, ya. Sudah berapa waktu aku berteduh di bawah dedaun jambu itu? Sudah berapa langkah kaki-kakiku berlalu di jalan batu itu? Kini pohon jambu dan jalan batu itu seakan memanggilku.

Dan bangku bambu di beranda, masihkah ia ada? Abilawa berharap bangku bambu itu belum diganti dengan yang baru. Ada sesuatu yang berharga di sana. Sesuatu yang bagi Abilawa tak layak dilupa. Di sebuah rembang petang, tatkala ujung sayap-sayap malam mulai menyentuh pucuk-pucuk daun pisang, di bangku bambu itu, di bawah pohon jambu, untuk kali pertama, Abilawa bersintuhan dengan Yustina.


HexWeb XT DEMO from HexMac International